Ahlan Wa Sahlan Ya Ikhwah. Selamat datang di Blognya si Difan. Blog Sunyi Sepi Mencekam Kalbu. Nikmati Artikel-artikel Acakadul...
Satu persatu blog-blog yang sering saya kunjungi hilang dari peredaran. Ada yang expired domainnya, ada blog yang sudah disuntik mati. Ada rasa kehilangan. Padahal blog-blog tersebut sebagian tidaklah saya kenal pemiliknya. Tapi kok saya jadi sedih ya?

Saya coba cek subdomain defaultnya, ga ketemu. Beberapa bulan sebelum domain expired, blog tersebut memang sudah zero activity, tidak ada pembaruan artikel. Blog dibiarkan seperti rumah kosong sampai domain habis masa pakainya.

Gimana ya, blog yang selama ini dirawat dan dipertahankan akhinya menyerah juga. Pemiliknya seperti sudah angkat tangan. Mungkin karena hasil dari adsenses blog yang mengecewakan, tidak ada kompensasi berarti yang didapat. Jadi tidak ada lagi semangat. Padahal blog-blog tersebut cukup SEO di pencarian. Atau memang si owner ganti domain, ya ga tau juga ya?

Tapi lepas dari itu semua, saya jadi ingat tulisan saya beberapa tahun silam, sila baca disini, tentang fenomena blogger yang merasa takut blognya raib karena layanan sudah ga eksis. Untuk itu mereka hijrah ke hosting berbayar sekalian pasang domain TLD (Top Level Domain)

Mereka pun memilih Wordpress Selfhosted, dengan alasan: Blog-blog mereka akan terus bisa eksis, karena kendali di tangan mereka dengan adanya hosting berbayar.

Disamping itu alasan hijrah ke Wordpress karena Blogspot dianggap tidak menarik lagi, kaku, monoton, ga bisa di apa-apain bentuknya, sudah ketinggalan zaman.

Tapi faktanya blog-blog mereka yang sudah memakai hosting dan domain berbayar pun raib juga, hilang dari dunia maya. Hosting dan domain berbayar ternyata ga jadi jaminan blog akan terus eksis. Malah sebaliknya: Blog gratisan dengan subdomain default yang dipandang sebelah mata masih bertahan, update pula lagi. Kayak blog saya ini.

Padahal blog saya ga pake adsense, ga ada kompensasi apa pun yang saya dapat, kecuali kesenangan dan kepuasan.

Hal ini membuktikan bahwa ga ada yang abadi di dunia ini, sekali pun anda menggunakan hosting unggulan dan berbayar yang katanya bisa anda kendalikan, tetap bisa raib juga, karena faktor jenuh, ga sanggup bayar sewa hosting/domain, atau blognya disuspend karena melanggar aturan.

Ada hikmahnya juga bagi saya untuk tidak memakai domain TLD. Karena kalau saya pakai TLD, suatu ketika nanti saya ga sanggup bayar sewanya, blog saya akan raib, ga bisa diakses, 404, imbasnya blog saya akan hancur di mata Google. Tapi bukan itu sih yang saya takutkan, melainkan pengunjung yang kehilangan blog saya.

Dulu pernah ditawarin domain .my.id oleh teman. Dia mau bayarin sewa domain saya tiap tahun. Sempat tertarik, tapi saya putuskan untuk memakai sub domain default aja (Blogspot.Com). Padahal domain .my.id nya uda sempat dipasang di blog saya, saya lepas lagi, ga enak coy dibayarin. Lagian saya takut domain tersebut tidak bisa saya pertahankan, mengingat keuangan saya pun tidak memungkinkan.

Kembali ke pokok pembahasan: Kalau kita hobinya cuma menulis, ga suka bongkar pasang widget /script, ga suka otak-atik kode JS, HTML dan CSS, bagusnya ga usah sewa hosting segala, pake yang gratisan aja. Model kayak Blogspot udah lebih dari cukup. Dan kalau perlu, ga usah pake domain TLD segala seperti .com .net .org .id, kecuali kalau anda punya dana yang cukup dan bisa dipertahankan.

Lagipula, mari kita jujur pada diri sendiri. Apa sih esensi tertinggi dari sebuah blog? Apakah pada ekstensi keren di belakang namanya, atau pada isi kepala yang dituangkan di dalamnya? Sebuah tulisan yang bergizi tidak akan mendadak basi hanya karena ia numpang lahir di platform gratisan dengan embel-embel Blogspot.Com.

Sebaliknya, domain .com yang mahal sekalipun akan terasa hambar dan mubazir kalau isinya cuma artikel hasil copypaste atau sekadar pajangan tanpa pembaruan.

Banyak blogger yang terjebak pada gengsi visual. Mereka sibuk mendandani rumah digital mereka dengan hosting dewa dan domain TLD premium, tapi lupa mengisi rumah tersebut dengan kehangatan sebuah tulisan. Begitu rasa jenuh mendera atau tak ada kompensasi berarti atau tagihan tahunan datang dan dompet mulai berteriak, rumah mewah itu pun runtuh seketika. Menjadi broken link, halaman 404, lalu hilang ditelan bumi. Tragis.

Saya tidak sedang meremehkan mereka yang memilih jalur berbayar. Kalau memang ada modalnya dan tujuannya untuk bisnis, silakan. Tapi bagi kita yang menganggap menulis sebagai ruang terapi, tempat berbagi, atau sekadar menyalurkan hobi, gratisan dari Google ini adalah sebuah kemewahan yang sering disia-siakan.

Pada akhirnya, waktu yang akan menjadi hakim paling adil di dunia blogging. Waktu akan menyaring siapa yang benar-benar cinta dengan aktivitas menulis, dan siapa yang cuma ikut-ikutan tren demi cuan atau gengsi semata.

Ketika blog-blog TLD bertumbangan satu per satu karena kehabisan napas biaya sewa, blog gratisan yang sering dipandang sebelah mata justru masih berdiri kokoh. Tetap hidup, tetap diperbarui, dan tetap setia menyambut pembaca setianya tanpa takut digusur oleh tagihan domain, walau blognya sunyi sepi mencekam kalbu, menyayat hati..

Post a Comment