Dari sini saya jadi tahu lebih detil kisah berdirinya Slank, awal merintis, masuk dapur rekaman, dan perpecahan di tubuh grup. Saya tahu mereka junkies, tapi tapi tak menduga separah ini. Gara-gara narkoba, grup mereka hancur, bahkan keluarga pun ikut menanggung akibatnya.
Yang menarik disini adalah pengaruh gang Potlot bagi para musisi rock Indonesia. Seolah Potlot adalah kiblat kesuksesan dan kepopuleran bagi para musisi gondrong dan celana jeans belel. Di gang sempit itu mimpi-mimpi anak muda ini dimulai, namun di sana pula kehidupan kelam berawal.
Potlot bukan sekadar markas Slank, melainkan tempat lahir para bintang seperti Anang Hermansyah, Andi Liany (almarhum), Oppie Andaresta, Imanez (almarhum), Gigi, The Flower dan lainnya. Anda mungkin tahu kenekatan anak kampung Andi Liany dan Anang yang jauh-jauh datang dari tanah kelahiran menuju Jakarta demi sebuah mimpi yang belum pasti.
Andi Liany datang dari Tanjung Pinang dengan karakter vokal yang sangat kuat, sementara Anang datang dari Jember. Mereka adalah gambaran dari ribuan anak muda yang melihat Potlot sebagai "Gerbang Surga" bagi musisi. Bayangkan, mereka berani hidup di tempat yang asing dan tak pasti di tempat yang belum tentu sehat serta rela jadi asisten (bahasa aslinya: pembantu) hanya demi go nasional (ketenaran).
Terbetik pertanyaan jujur dalam hati saya? Kok bisa..?? Kok mau..??
Secara lho ya, jauh-jauh meninggalkan kampung halaman, menuju tempat yang asing, hanya untuk jadi bintang. Apalagi dua pemuda tadi itu berasal dari kota kecil, dan Anang katanya alumni pesantren pula? Dari santri jadi rocker..???
Lain cerita kalau kita merantau dan tinggal di tempat sanak saudara demi mencari penghidupan yang layak, nah ini sih dimaklumi. Perjuangan yang wajar namanya.
Kalau bukan mental artis mereka yang sudah terpatri kuat, dan mimpi yang menggebu-gebu ingin diwujudkan, tidak nanti kenekatan itu ditempuh. Plus masa itu belum ada media yang membantu menampung bakat seseorang, internet juga belum ada. Jadi anak-anak muda rocker ini menganggap Potlot sebagai pintu kesuksesan dalam bermusik. Mencari koneksilah istilahnya agar bisa masuk dapur rekaman untuk go nasional.
Potlot semacam Medsos-nya era 1990-an. Dulu tidak ada Youtube, Instagram atau TikTok untuk pamer karya. Kalau kamu jago main gitar atau jago nyanyi di Jember atau Tanjung Pinang, yang tahu cuma tetanggamu saja, Indonesia ga tahu. Satu-satunya cara agar namamu terdengar sampai Jakarta adalah dengan datang langsung ke pusatnya.
Sedemikian urgen-kah popularitas itu, kalau ga jadi roker terkenal, rasanya tersiksa, memalukan gitu?
Entahlah, bagi mereka ini normal-normal saja, tapi bagi saya ini berlebihan lho. Di luar nalar kewarasan.Ini saya berandai-andai ya, andaikan saya jadi musisi-musisi rock tersebut, akankah saya ikutan ke Potlot demi meraih mimpi-mimpi?
Jawabannya: Tidak Akan...!!!
Ini alasan kenapa saya tak kan menginjakkan kaki ke Potlot.
-
Pusaran Narkoba
Ini alasan pertama dan utama, walau jujur ya, insyaAllah saya tak akan terikut masuk ke dalam lembah hitam ini. Dari kecil saya dididik orang tua saya untuk tidak melakukan hal-hal yang bisa merusak diri. Dari sejak SMA saya tak tergoda rokok dan ganja, padahal kawan-kawan saya pemakai semua. Namun dalam hal ini, tetap berada dalam komunitas pemakai (junkies) sangat tidak menyamankan. -
Toxic Circle (Kehidupan Tak Sehat)
Berdasarkan pengalaman saya, lingkungan pergaulan seperti di Potlot itu biasanya ga sehat: Candaan yang over, ngekick (roasting), pembulian (verbal), setidaknya mengarah kesana. Apalagi jika orangnya alim, polos, ga neko-neko, ga nakal, ga rusak, wah jadi mainan ini, makin keras kicknya. Saya pernah berada di circle seperti ini. Orang normal itu dianggap rusak (aneh) di tengah-tengah orang yang rusak. -
Kehidupan Tak Pasti (Pengorbanan Tak Sebanding)
Ketika seseorang memilih merantau tanpa kepastian, mereka mengorbankan banyak hal yang sebenarnya bisa jadi pondasi hidup yang lebih stabil, seperti: Pendidikan dan pekerjaan yang dianggap layak. Pekerjaan yang layak ini bukan harus jadi manager, jadi direktur, harus jadi PNS atau perusahaan elit. Banyak perusahaan-perusahan swasta yang masih bisa kita masuki seperti Swalayan, industri pabrik, dan lainnya.
Waktu produktif yang seharusnya dipakai untuk kuliah, mencari pekerjaan, membangun usaha habis hanya untuk "menunggu keajaiban" di ibu kota. Belum lagi jauh dari orang tua dan kehilangan momen penting dalam hidup hanya untuk sebuah mimpi yang belum tentu terwujud, apalagi tempat yang dituju lingkungannya belum tentu sehat.
Realitasnya, industri musik adalah salah satu sektor dengan tingkat kegagalan tertinggi. Dari ribuan musisi amatir yang bermimpi "Go Nasional", mungkin tidak sampai 1% yang benar-benar bisa menembus tangga lagu.
Dan di hari tua anda, bisakah menikmati dari hasil karya-karya anda? Tak semua musisi yang sudah tak produktif sejahtera dengan royalti karya-karya mereka.
Penulis juga dulu seorang musisi, bermain di genre Heavy Metal sampai Thrash Metal. Sama seperti yang lain, kita juga ingin top kok, ingin dikenal, tapi ga sampai di luar nalar. Bagi kami: Bisa manggung, ikut festival, atau ikut perlombaan bikin demo tape di radio Metal sudah memuaskan hati. Dikenal di seantero komunitas Metal daerah aja sudah cukup. Itu pun uda paten kali. Bukan ga mau maju, tapi ikutin aja jalannya waktu itu, ga terlalu berambisi apalagi nekat.
Almarhum Andi Liany dan Anang memang suskes dengan kenekatan mereka. Tapi bukan berarti seperti itu semua hasilnya. Peluangnya mungkin 1:10.0000. Di balik sepuluh nama besar yang kita tahu, mungkin ada ribuan musisi lain yang cuma jadi 'saksi sejarah' di pinggir Gang Potlot.
Sekarang saya sudah tak bermusik lagi, karena faktor usia, atau sudah bosan atau sudah lewat masanya, serta keyakinan yang saya anut bahwa musik itu mudharat (kalau ga mau dibilang HARAM). Apalagi jenis musik-musik rock dengan lirik mengumbar aurat wanita, sex bebas, kehidupan liar, narkoba, jelas ini HARAM hukumnya.
Saya tak merendahkan mereka-mereka yang mengejar mimpi ke Potlot. Itu hak mereka, jalan hidup mereka. Hidup itu pilihan, mereka memilih jalan tersebut. Semua ada pertanggung jawabannya. Bagaimana pun dulu saya pernah suka lagu-lagu Slank (hanya album pertama dan kedua), saya dulu pernah ngefans dengan Pay Slank. Cukup yang dulu saja, sekarang saya sukai hanya yang bermanfaat untuk akhirat saja. Setidaknya, tidak terang-terangan mendukung kemudharatan walau kita belum mampu untuk meninggalkan.

Post a Comment