Beberapa waktu terakhir, nama Cangar mendadak sering muncul di timeline. Bukan karena wisata alamnya yang adem atau pemandian air panasnya yang terkenal, tapi karena dua peristiwa yang bikin viral.
Dua peristiwa viral tersebut adalah kejadian bunuh diri (bundir) dua orang pemuda di waktu yang terpisah di lokasi yang sama. Dua korban ditemukan di bawah jembatan di dasar sungai.
Kejadian pertama terjadi pada akhir Maret 2026. Seorang pemuda berinisial MMA (24), asal Mojokerto, ditemukan setelah sepeda motornya terparkir di tepi jembatan. Belum genap sebulan berselang, pada 23 April 2026, peristiwa serupa kembali terjadi. Pemuda berinisial DPW (24), asal Lumajang, ditemukan dalam kondisi serupa, dengan sepeda motor, helm, dan sandal yang ditinggalkan di sekitar lokasi.
Media Sosial dan Netizen
Kisah bundir pertama banyak diekspose oleh para konten kreator, yang ironisnya video-video lokasi kejadian bundir mereka dramatisir dengan memakai backsound sedih. Reaksi netizen ga usah ditanya, luar biasa dukungan dan simpati. Sang admin malah mendoakan, semoga tenang di alam sana. Lha...????
Pada peristiwa bundir kedua, respons warganet justru lebih keras. Netizen mulai sadar atau memang komentator yang berbeda. Alih-alih dipenuhi ungkapan empati, banyak komentar yang berisi kecaman, sinis bahkan kemarahan terhadap tindakan tersebut.
Apa yang bisa disampaikan disini?
Berita bundir yang dikemas dengan sajian dramatis dan disebar luas berulang-ulang, lengkap dengan visual lokasi dan narasi emosional plus komentar-komentar simpati netizen, akan membuat dampak psikologis seolah bundir adalah cara yang tragis namun indah" atau puitis untuk mengakhiri masalah.
Hal ini berbahaya karena menciptakan ilusi bahwa seseorang baru akan diperhatikan setelah mereka tiada. Orang lain yang sedang depresi mungkin melihat dukungan tersebut dan berpikir:
"Kalau aku melakukan ini, dunia akhirnya akan melihatku. Aku tidak akan lagi jadi orang asing; aku akan jadi berita utama."
"Kalau aku pergi, orang-orang akan peduli dan mencintaiku seperti itu."
Mereka merasa bahwa melalui kematian akhirnya bisa menceritakan kisah mereka kepada dunia dengan cara yang paling didengar.
Dukungan netizen yang berlebihan seperti komentar: "Tenang di sana," "Kamu sudah berjuang," "Laki-laki tak mampu bercerita", tanpa disertai edukasi dan pemahaman agama, secara tidak langsung memberikan validasi.
Ketika netizen memberikan semangat atau pemakluman yang berlebihan, ada resiko terjadinya romantisasi bunuh diri (Copycat Suicide). Seseorang yang sedang dalam kondisi psikologis rentan melihat laporan berita yang sangat mendetail atau dramatis tentang bunuh diri, mereka mungkin mulai melihat tindakan tersebut sebagai solusi yang wajar atau bahkan heroik untuk masalah mereka sendiri.
Ini dikenal dalam psikologi sebagai Werther Effect, di mana pemberitaan atau narasi publik yang salah tentang bunuh diri justru memicu orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Anda bisa saksikan sendiri, terjadi lagi tindakan bundir kedua.
Jika ingin mendoakan, lakukan secara pribadi tanpa perlu ikut dalam arus viral yang bisa memicu efek domino bagi orang depresi lainnya.
Jangan menormalisasi bundir dengan kata-kata: "Wajar kalau dia bunuh diri, karena ada gangguan kejiwaan, karena tak ada tempat bercerita, Jangan cela dia, kita ga ga tahu seberapa berat beban yang ia tanggung".
Hey kawan, banyak orang punya gangguan jiwa, tapi tak mengakhiri hidup dengan bundir saat berhadapan dengan beratnya masalah. Banyak yang lebih berat beban hidupnya serta iman yang pas-pasan, tapi tak membuatnya untuk mengakhiri hidupnya. Apalagi saat diketahui ternyata masalah pelaku bundir tersebut adalah asmara. Gara-gara asmara nekat bundir..???
Bagaimana pun bundir itu dosa besar yang tercela, ancaman hukumannya berat, di azab dengan cara seperti dia membunuh dirinya sendiri dalam waktu yang lama.
Harusnya bagaimana?
Kejadian viral tersebut harusnya menjadi pengingat bagi kita untuk lebih peduli pada kesehatan mental diri sendiri dan orang terdekat sebelum terlambat. Nasehatin orang yang masih hidup akan dampak negatif bundir terutama dari sisi agama (Islam). Arahkan orang agar mencari solusi dengan mendatangi psikiater, dialog dengan ustadz, atau sekalian ajak orang agar dekat kepada Allah. Ini utamanya.
Lebih utama kita mendoakan, menyemangati, mensupport saudara-saudara kita yang sedang berjuang sendirian dalam diam menjalani ujiannya, menjalani masa-masa dukanya dengan merangkak, tertatih-tatih, bahkan setelah hampir berdiri, jatuh lagi. Beri apresiasi pada mereka yang ingin keluar dari keputus asaannya. Ini yang harusnya anda lakukan, lebih tepat sasaran.
Mari berhenti menjadikan tragedi sebagai konsumsi konten. Kepedulian yang benar adalah menjaga yang masih ada, bukan meratapi yang sudah pergi dengan cara yang justru mengundang orang lain untuk menyusul.
Post a Comment