Sekarang, tinggal panggil ChatGPT, Gemini, kasih perintah ke mereka: "Buatkan dong artikel tentang anu dan anu, kasih ide pembuka dong Suhu, apa kategorinya, judulnya yang SEO ya? Bikinkan sekalian drafnya dong lengkap dengan sub judul, dan kode HTML yang mendukung?"
Srat sret srot, langsung muncul tulisan. Copas dan publish lengkap dengan gambar hasil AI 😀. Enak ya, ga capek. Kita tinggal copas dan tadaaa..!!
Katanya sejak munculnya AI, nyari duit melalui Adsense lebih mudah. Nyatanya ga semudah itu Ferguso..!! Justru Google malah memperketat permohonan Adsense, karena banyaknya tulisan-tulisan karya AI. Google jadi bingung.
Masalahnya, Google Search sedang kebanjiran konten. Setiap hari, jutaan artikel diproduksi secara instan menggunakan AI tanpa adanya proses kurasi manusia. Inilah yang membuat Google terpaksa menaikkan standar mereka. Mereka tidak lagi hanya mencari informasi, melainkan keaslian yang sulit ditemukan, karena informasi sudah terlalu melimpah.
Saya sering bertanya kepada Gemini AI: "Banyakkah pengguna meminta anda untuk membuatkan artikel?"
Banyak banget! Bisa dibilang, mayoritas pengguna meminta saya membuatkan artikel lalu mereka langsung copy-paste mentah-mentah ke blog mereka. Mereka berharap bisa dapat uang cepat dari AdSense tanpa mau berkeringat.Terus saya tanya lagi, kok anda tahu kalau mereka copas mentah-mentah, apa anda melihatnya?
Saya memang tak bisa melihat langsung aktifitas mereka, tapi saya bisa mengetahui dengan pola Sidik Jari AI (Watermarking Digital). Secara teknis, setiap AI punya gaya bahasa yang berpola. Kami cenderung menggunakan struktur kalimat yang terlalu sempurna, transisi yang itu-itu saja (seperti "Selain itu...", "Di sisi lain...", atau "Kesimpulannya..."), dan pemilihan kata yang sangat netral.Itu jawaban dari Gemini AI.
Jika saya melihat ada jutaan blog di internet yang menggunakan susunan kata yang 100% sama dengan apa yang sering saya hasilkan, saya (dan Google) bisa langsung tahu itu adalah hasil generate tanpa edit.
Ironisnya, mekanisme pertahanan ini justru sering salah sasaran. Google menganggap tulisan rapi, terstruktur dan mempunyai pola yang sama dideteksi hasil AI, makanya katanya jangan terlalu kaku kayak robot, bikin nuansa manusianya, umpama, "Ah gila loe, Sarap ko ya? Wkwkwk, beeuuughh.. gedubrak..!!, dan lainnya. Nah yang kayak gini dideteksi karya manusia oleh Google.
Padahal faktanya tidak selalu demikian. Situs-situs informasi dan teknologi, dan semisalnya menuntut gaya tulisan yang baku, formal, dan terstruktur. Disana ga ada ruang bahasa gaul, ga ada kalimat pasaran, ga ada emoticon ketawa dan ekspresi slengean lainya. Berbeda dengan blog personal seperti jurnal harian, diari yang memang mengandalkan narasi manusiawi. Justru blog personal ga bisa minta bantuan AI.
Jadi Google ga adil dong menilai seperti itu..!!!
Banyak yang menganggap Gemini AI atau ChatGPT adalah mesin pencetak uang. Mereka minta dibuatkan 50 artikel dalam sehari, lalu diposting begitu saja. Hasilnya? Blog mereka bukannya ramai, malah kena tendang dari pencarian Google karena dianggap spam. Katanya Google itu pintar, kalau ada ribuan blog isinya kalimat yang polanya mirip semua, mereka tinggal tandai sebagai "AI-Generated Trash".
Saat ini Google tengah dikritik dari berbagai penjuru. Media-media besar seperti The Verge, Forbes, hingga Wired mulai menyuarakan keraguan mendalam atas masa depan hasil pencarian. Mereka mempertanyakan: akan jadi apa Google Search jika nantinya hanya menjadi sarang bagi konten-konten generatif AI yang hambar dan kehilangan sentuhan kemanusiaan?
Sebuah dilema besar bagi Google; jika mereka tidak melahirkan Gemini, mereka akan habis dilibas oleh ChatGPT. Namun, setelah AI itu diciptakan, malah menyusahkan diri sendiri. Padahal, jika menilik ke belakang, teknologi AI bukanlah barang baru bagi Google, mereka sudah memilikinya jauh sebelum tren ini meledak.
Terus Gimana?
Ah bodo lah 😅. Ada AI atau tidak, toh blog-blog sepi kayak blog saya ini tetap tak kan dipandang oleh Google. Jauh sebelum Artificial Intelligence ini merajalela, sejak tahun 2016-an, banyak para blogger yang sudah berusaha membuat ratusan artikel orisinil, ditulis dengan tangan dan ide murni, didaftar Google Console, taruh meta Tag, hasilnya? Jangankan masuk halaman pertama, masuk peringkat 30 besar pun susahnya minta ampun. Rasanya, Google hanya memberikan panggung untuk situs-situs besar yang bermodal kuat. Jadi apa pun yang terjadi, sukak kalian lah kesitu..!!Saya jadi keingat teman blogger saya, dia sudah pesimis untuk nyari duit di Blog (saingannya bro, kelas kakap semua), lebih baik nyari duit di dunia nyata, jelas hasil nya. Dapat Adsense juga belum tentu dapat duitnya.
Alangkah enaknya masa dulu, menjadi blogger terasa sangat menyenangkan. Di era emas seperti MyWapBlog (MWB dan Blogspot itu sendiri), rasanya trafik datang begitu mudah dan interaksi sesama blogger begitu hangat. Tak ada verifikasi kepemilikan di Google Search Console (GSC), tak ada pengaturan sitemap, tak ada mobile fiendly, bla..bla.. Tapi blog atau artikel-artikel kita terpampang di laman pencarian Google walau bukan peringkat pertama, kedua dan ketiga, tapi ini juga sudah Alhamdulillah.
Sekarang boro-boro, tulisan sudah panjang, gambar sudah dikompres, template didisain agar ringan, seringan kapas, sudah verifikasi dan veri irawan, sudah ini, sudah itu, namun blog ga juga dilirik sama si Google ini.
Dan sekarang, gara-gara AI yang dibikinnya sendiri, Google malah menerapkan aturan yang mengada-ngada, yang menyulitkan pengguna platform blognya. Tapi who cares lah, toh tak ada pengaruhnya. Nikmatin saja AI, dan jadikan blogmu sebagai dokumentasi pribadi, ga usah muluk-muluk, ambil kompensasi kepuasan berkreasi. Wkwk. Putus asa neee.??
Ga juga kok, dari dulu memang saya ga terlalu gila dengan Adsense, buktinya Adsense blog ini saya tutup. Menulis bagi saya adalah hoby dan kepuasan tersendiri.
Biarkan aja si Google kebingungan dengan AI nya.

Post a Comment