Liburan Akhir Semester Kenaikan Kelas
Liburan panjang akhirnya tiba. Sampai juga keinginan kami berpergian ke Jakarta dengan kapal laut. Waktu itu durasi liburan sekolah cukup lama, sebulan penuh, tidak seperti sekolah sekarang. Sebulan adalah waktu yang lebih dari cukup untuk refreshing, sejenak melupakan penatnya belajar, melupakan suasana sekolah (SMA) yang tak ada indah-indahnya ini.Ada 2 kebahagiaan disini:
- Jalan-jalan ke Jakarta.
- Berpelesiran dengan kapal laut.
Jakarta geto lho? Kota metropolitan, kota sejuta impian, kota tempat para artis, tempatnya presiden, kota pusatnya hiburan. Ya, Dulu bisa jalan-jalan ke Jakarta kan hebat, ga semua orang Medan bisa kesana.
Jauh-jauh hari emak memang sudah memberitahu kepada kami, kalau nanti libur kita akan pergi ke Jakarta. Kontan, senang kalilah kami, ga menyangka rasanya, bisa bertemu presiden Suharto, eh maksudnya bisa jalan-jalan ke Jakarta.
Di Jakarta, rencana kami akan menginap di rumah dua almarhumah bibi saya (kakak dan adiknya emak), juga di rumah almarhum paman (adiknya almarhum ayah), kita mengunjungi secara bergantian.
Saya sudah pernah berjumpa dengan almarhumah tante saya (adik emak), juga dengan anaknya, tapi almarhumah bibi (kakaknya emak, kita manggilnya mak tuo), belum pernah, bahkan anak-anak mereka juga belum pernah bertatap muka. Dan saat liburan ke Jakarta kali ini, kita akan ketemuan. Kabarnya anak-anak mak tuo ini cantik-cantik dan ganteng.
Wah kita bakal punya saudara baru lagi, kataku kepada adikku. Norak kali ya? Wkwkwk.. Beginilah kesederhanaan kami..
Hari H Pun Tiba, Ke Pelabuhan
Ada 6 orang yang berangkat: Saya, almarhumah nenek, ibu, dua adik saya dan almarhumah kakak, sedangkan almarhum ayah tidak ikut.Singkat cerita kita tiba di pelabuhan Belawan dengan call Taxi, waktu itu belum ada Grab Car. Penumpang yang berangkat ke Jakarta bersama kami cukup banyak, mungkin karena musim liburan ya? Kita memilih kelas ekonomi, ya ga apalah, yang penting naik kapal coy! Saya lupa kapal apa yang kami naiki, mungkin KM Kerinci, mungkin juga Sinabung, sudah lupa saya.
Cukup lama kami menunggu di ruang tunggu, orang-orang menghabiskan waktu dengan membaca majalah atau mengisi TTS atau makan cemilan, waktu itu belum ada HP. Sampai akhirnya petugas membuka pintu gerbang menuju ke dermaga. Penumpang semua berlarian, termasuk kami, saya masih ingat almarhumah nenek dengan semangatnya berlari sambil menggendong tas, ah jadi ingat beliau, rahimahallah. Masing-masing kita pegang tiket untuk diserahkan ke petugas. Kami pun berlari menuju dermaga
Penumpang sangat padat, lumayan lama kita baru bisa naik ke atas kapal, belum lagi para kuli pelabuhan yang bikin tambah sulit bergerak. Tangga menuju kapal lumayan bahaya, kalau tak hati-hati bisa nyemplung ke laut. Untung petugas ikut membantu kami.
Akhirnya kami sampai ke dalam kapal, itu pun masih antri berdesakan. Kita sibuk mencari ruangan kelas. Duh jadi keingat lagi. Setelah kesana kemari dan bertanya kepada petugas, kami pun berhasil menemukan tempat kami.
Kapal masih lama bergerak, setelah menyusun barang-barang, kami cuma duduk-duduk sambil memerhatikan orang-orang yang sibuk lalu lalang.
Bosan di ruangan kelas, akhirnya saya dan adik naik ke geladak. Dari sini memandang jauh ke ruang tunggu, ternyata disana sudah penuh orang-orang yang mengantar penumpang. Di lantai paling atas ada band pengiring selamat jalan, wah semarak. Para pengantar melambaikan tangan kepada orang-orang diatas kapal yang mereka antar, mereka saling melambaikan tangan. Saya juga ikut melambaikan tangan, ga tahu entah kepada siapa? Lah keluarga saya kan ikut semua ke kapal. Ya, ikut ngeramein ajalah.
Perlahan kapal pun ditarik oleh kapal pemandu hingga menjauh dari dermaga, lambaian tangan orang-orang semakin kencang, band pengiring pun memainkan lagu selamat jalan, duh keingat ane.
Sampai satu ketika, klakson kapal berbunyi Tuuut.. Tuuut, mesin kapal berbunyi, kapal perlahan bergerak, para pengantar dan penumpang kapal masih melambaikan tangan. Dermaga semakin jauh, selamat tinggal Belawan.
Petualangan dan Kenangan Di atas Kapal
Kalau ditanya, apakah nikmat naik kapal laut? Sudah jelas, jawabnya 100% IYA..!!Mustahil kalau ada yang bilang naik kapal laut itu boring, biasa aja, kecuali dia sudah seribu kali naik kapal laut atau memang ga punya jiwa petualang.
Banyak spot-spot di atas kapal laut yang bisa membuat angan ini terbang kemana-mana, seperti:
- Menyendiri di geladak / buritan atau anjungan sambil menatap laut lepas dan mendengarkan walkman dengan lagu Always Somewhere-nya Scorpion (dulu saya penikmat musik).
- Santai di kafe lantai atas sambil menikmati angin berhembus.
- Melihat negeri Singapura dengan gemerlap lampu-lampu di malam hari dari jarak dekat.
- Berlomba dengan lumba-lumba.
- Menikmati hening Shubuh di Masjid kapal dalam deru deburan ombak dan suara pompa air.
- Tidur dengan getaran mesin kapal laksana refleksi.
- Dan lain-lainnya
Kita langsung menuju lantai atas, angin makin kencang. Sampai ke masjid, langsung ke ruangan wudhu, disini suara pompa air menderu, inilah kenangan spesial bagi saya, sila baca Simfoni Pompa Air di Pelataran Shubuh.
Badan sudah dingin karena angin laut, untung saja air wudhu nya panas, jadi penyeimbang badan yang sudah dingin. Masuk ke masjid brrr tambah dingin karena AC, tapi justru disinilah kenangan khasnya, baca aja di link atas tadi ya?
Itu semua menjadi kenangan khusus bagi kami. Sayang penumpang tidak boleh berkeliaran sampai tengah malam di luaran, rencana saya ingin berkeliaran sampai tengah malam di geladak atau di kafe, tapi dengan adanya aturan ini, gagal deh. Semua penumpang harus sudah berada di kamar masing-masing, sekalian pemeriksaan tiket oleh petugas.
Walau waktu itu belum ada HP untuk memotret, tapi kami sudah punya perangkat yang namanya kamera Konica otomatis. Kamera inilah yang mendokumentasikan semua aktifitas kami. Sayang, album foto selama berada di kapal entah kemana sekarang.
Dua hari dua malam, kami berada di atas kapal, dan akhirnya sampailah kami ke pelabuhan Tanjung Priok. Dengan terpaksa kami tinggalkan petualangan mengasyikkan di atas kapal. Yang menjemput di pelabuhan adalah almarhum pak dan mak tuo, mereka membawa mobil. Mobil kok dibawa, kan berat ya?
Sampai di Jakarta, Tidak Sesuai Ekspektasi
Sepanjang perjalanan saya lihatin kok sawah melulu, mana gedung pencakar langitnya, kok Monas ga kelihatan ya? Ini sama aja kayak di daerah-daerah luar kota di Medan.Waktu itu saya fikir Jakarta itu isinya gedung bertingkat semua, padahal Tanjung Priok kan pinggiran, kalau mau lihat Monas dan gedung pencakar langit ya di kawasan kota besarnya. Seperti Jakarta Pusat, Jakarta Selatan dan lainnya. Lugu kali ya, wkwkwk.. 😅
Ternyata perjalanan dari pelabuhan Tanjung Priok ke rumah bibi (Tangerang), makan waktu lama juga, kenapa semuanya serba lama ya? Badan sudah lelah. Rumah bibi jauh di luar kota, di daerah Batu Ceper, Tangerang. Tapi pemandangan asyik juga, sawah-sawah, pohon-pohon, hutan.
Akhirnya setelah melewati daerah serba hijau, sampailah kami di komplek yang bernama Perumahan Angkasa Pura. Rumah-rumahnya sederhana, ada lapangan bola, tapi adem ngeliatnya.
Mobil memasuki komplek, setelah beberapa kali belokan, kami sampai di depan pagar. Ah itu rumah paman dan bibiku kah?
Terlihat seorang gadis remaja membukakan pagar. Apakah dia sepupuku, beginikah wajahnya? Jadi minder, cantik rupanya 😅
Rumah paman dan bibiku berlantai dua tapi sangat sederhana, jauh dari kesan mewah, ya namanya juga rumah dinas, tapi saya suka liat rumah-rumah kayak gini. Adem..
Kami tidur di lantai atas, ada dua kamar disana, kamar abang sepupuku dan satu lagi kamar dua sepupuku yang perempuan. Aku dan adik yang paling besar tidur di kamar abang sepupu, sedangkan emak, mendiang nenek dan adik paling kecil tidur bersama dua sepupu perempuan di kamarnya.
Kami hanya bersalaman dengan dua sepupu yang perempuan, sedang abang sepupu entah dimana rimbanya. Sampai malam saya tidak bertemu dengannya, akhirnya tahu lah saya, kalau dia tidur di rumah kawannya.
Kisah Sedih di Jakarta / Ngeri Dibilang Kuper (Kurang Pergaulan)
Sebenarnya inti tulisan ini, ya sub judul diatas barusan? Ngeri Dibilang Kuper, tapi berhubung kisah ini ada pertualangan di atas kapal, ya ceritain ajalah semua.Ternyata kami (saya, mendiang kakak, dan adik-adik) "tidak disambut hangat" oleh para sepupu, dalam artian, kami tidak mudah bisa diterima akrab (mungkin) oleh mereka, maklumlah kami bukan anak gaul, kami hanya anak-anak rumahan, polos, sederhana dan ga neko-neko.
Hari pertama di rumah mak tuo (malamnya), abis Maghrib saya mencoba jalan-jalan keliling komplek, abis suntuk di rumah. Di komplek ini saat sore, anak-anak remajanya ramai ngumpul di luar, ada yang main bola di lapangan, ada yang ngumpul ngegosip. Dan kasihannya, kami tidak diajak. Ga mungkin lah kami yang pendatang ini ujug-ujug ngegabungin diri, macam betol aja bak kata orang Medan bilang. Harusnya para sepupu yang mengajak kami. Alhasil kami cuma merem di dalam rumah, nonton TV dan dengerin walkman. Ini berlangsung selama kami berada di rumah paman dan bibi ini lho.
Okelah kembali ke topik, malam pertama saya coba keliling komplek sendirian, anak-anak ramai, saya cuek aja jalan. Tahu-tahu, saya dicegat oleh seseorang.
"Kamu sepupunya bang Ady ya?" (Nama abang sepupu saya), tanya yang cegat saya. Rupanya dia teman abang sepupu saya, masih ingat, namanya Rony.
"Iya!" Jawab saya.
"Dipanggil bang Ady, ikut yok?" Katanya. Kira-kira gitulah percakapannya. Saya sudah lupa persisnya, kan uda lama.
Saya pun mengikuti dia. Dibalik sebuah pos (saya juga uda lupa persisnya), rupanya pada ngumpul anak-anak komplek termasuk abang sepupu saya. Saya dibawa kesini, mungkin mau dikenalin, tapi caranya ga enak gini ya? Itu pun karena saya iseng keluar rumah, kalau ga, ga bakal si abang sepupu mau ngenalin kawan'-kawannya ke saya.
Asli, saya mati kutu di tengah-tengah mereka. Padahal saya ga kutuan. Hilang gaya saya, mereka anak-anak komplek gaul dengan bahasa: lu, lu, gue, gue, emang nape? Mana masuk ke karakter saya? Jadi saya lebih banyak diam, untuk mengurangi rasa kaku, saya menghisap rokok Marlboro yang mereka tawarkan, padahal saya ga merokok saat SMA. Entah perasaan saya, atau memang benar, saya sempat dengar suara salah satu dari mereka bilang: KUPER! Asli ga enak kali rasanya, ga berapa lama, saya minta diri, balik ke rumah bibi.
Setelah itu saya lebih banyak diam dan merenungi diri, kenapa ya saya ga bisa luwes, cepat beradaptasi dengan lingkungan? Ngeri rasanya DIBILANG KUPER (KURANG PERGAULAN)
Semenjak kejadian itu saya sudah tak mud lagi berada di Jakarta, baru satu hari, mau melewati 30 hari pulak, apa bisa ya? Bukan cuma saya, adik saya pun berucap demikian, rasanya ingin balik ke Medan saja.
Bayangkan sudahlah kedatangan kami (para anak-anak orang tua ini) tidak disambut oleh para sepupu, kami pun tidak diajak untuk diperkenalkan oleh teman-teman mereka. Mungkin ya, mereka tidak sombong, tapi memang begitulah sifat mereka. Tapi bagaimana pun, se-tak enaknya dengan kedatangan tamu, hatta belum dikenal sekalipun, tuan rumah harus menyambut, mangajak dan menyapa, apalagi kalau tamunya ingin menginap. Begitu yang diajarkan orang tua kami.
Kenangan Yang Pahit Justru Menjadi Manis
Seminggu kami berada di Batu Ceper, seminggu lagi kami menginap di Jati Bening Bekasi, tempat mendiang tante (adik emak), seminggu lagi di tempat mendiang paman (adik ayah saya), di daerah Kampung Rambutan. Baru ditutup balik ke rumah bibi di Batu Ceper selama seminggu (jadi pas sebulan). Udah malas aja bawaan badan ni.Hal-hal manis penghibur hati adalah saat jalan-jalan ke tempat-tempat wisata seperti Monas, Ancol, Lubang Buaya, Taman Mini, Sea World, cuma itu penggembira di hati. Salut lihat ibu saya yang menyewa mobil khusus selama seminggu agar kami bisa raon-raon kota Jakarta. Kegembiraan ini sedikit banyak menghilangkan kesedihan.
Tapi anehnya, justru hal-hal yang menyakitkan tadi menjadi kenangan manis (khas), biasanya yang tak enak-enak itu bakal terus dikenang, tak kan terlupakan. Walau tak ingin mengulanginya lagi. Tapi jujur, semenjak kejadian yang tak mengenakan saat di Jakarta tersebut (dibilang kuper), jadi beban trauma bagi saya, sejak saat itu saya jadi orang yang tak percaya diri.
Saat itu ingin rasanya saya jadi orang rusak: Pemakai narkoba, pemabuk, remaja yang bandel, dan sejuta kenakalan lainnya, makin bandel, makin rusak, makin bangga saya, agar predikat Kuper tadi itu bisa hilang. Tapi itu tidak pernah terwujud. Saya, kakak dan adik-adik tetap menjadi anak rumahan yang polos, baik, ga neko-neko, rajin ibadah (maaf ya ga maksud riya).
Namun setelah saya besar dan dewasa, saya baru sadar bahwa saya bangga jadi anak kuper yang ga terlibat narkoba, tawuran, sex bebas dan kenalan remaja lainnya. Saya bangga jadi orang yang agamis dan benci jadi orang rusak.
Kejadian yang saya ceritakan di dalam artikel ini memang sudah sangat lama berlalu, puluhan tahun silam. Namun, segala rasa yang tertinggal di dalamnya tak kan pernah sirna ditelan waktu.
Sekarang, setiap kali saya merenung dalam suasana yang mirip seperti di kapal, ingatan saya sering kali terbang kembali ke masa 1989 tersebut. Kisah menyendiri di geladak dengan hembusan angin laut, menatap laut lepas di kondisi malam, suasana Shubuh hening dengan senandung suara mesin pompa air adalah memory khusus bagi kami terutama saya.
Hal-hal yang menyakitkan yang menjadi trauma berkepanjangan akhirnya pupus seiring berlalunya waktu, dan tinggal menjadi kenangan yang tak terlupakan.
(My room, hampir midnait)

Post a Comment