Kilas Balik Perjalanan 1989 (Ngeri Dibilang Kuper)

Kilas Balik Perjalanan 1989 (Ngeri Dibilang Kuper)
Kisah ini adalah lembaran usang dari puluhan tahun silam, tepat ketika saya baru saja menyelesaikan tahun pertama di bangku SMA. Sengaja saya abadikan di sini sebagai arsip digital, mungkin nanti bisa dibaca oleh anak saya atau orang-orang yang turut terlibat dalam kisah ini. Sebagian fragmennya juga pernah saya tuangkan dalam tulisan Simfoni Pompa Air di Pelataran Shubuh di blog Abinya Fathan.

● ● ●

Semuanya bermula ketika liburan panjang kenaikan kelas tiba. Bagi generasi dulu, masa libur satu bulan penuh adalah keistimewaan yang tak lagi ditemukan pada anak sekolah zaman sekarang. Waktu sebulan lebih dari cukup untuk membasuh penat, melarikan diri sejenak dari rutinitas belajar, dan melupakan atmosfer sekolah yang sejujurnya: Sama sekali tidak ada indah-indahnya.

Ada dua kegembiraan dalam perjalanan ini: Kesempatan jalan-jalan ke Jakarta, dan petualangan mengarungi lautan dengan kapal laut.

"Ah Jakarta, we’re coming for you soon, show us a good time!"

Siapa yang ga surprais? Jakarta geto looch? Kota metropolitan, pusatnya hiburan, tempat tinggal presiden, dan kotanya para artis. Dulu, bisa menginjakkan kaki di Jakarta itu pencapaian hebat bagi anak daerah; tidak semua orang Medan punya kesempatan ke sana.

Agenda kami bukan cuma pelesiran. Perjalanan ini juga menjadi momen silaturahmi dengan sepupu-sepupu (anak almarhumah kakak kandung Ibu) yang sejak lahir belum pernah kami temui. Kabarnya, anak-anak Mak Tuo di Jakarta ini cantik-cantik dan ganteng.
(Bicara cantik, jujur ya, ibu saya juga cantik orangnya, anaknya pun ganteng-ganteng kecuali saya) 😅
Tentu ini akan menjadi rasa penasaran di kepala: Akan seseru apa pertemuan pertama kami nanti, atau justru malah sebaliknya?

Ke Pelabuhan

Kami berangkat berenam: Saya, almarhumah nenek, ibu, almarhumah kakak, dan dua adik saya. Sementara almarhum ayah tidak ikut. Kita ke Pelabuhan Belawan waktu itu menggunakan Taxi via phone call, tentu saja waktu itu belum ada Grab Car.

Saat tiba di pelabuhan suasana ramai bukan main, karena musim liburan kali ya? Kami memilih tiket kelas ekonomi. Ya tak apa lah, yang penting bisa merasakan naik kapal laut. Sayangnya saya lupa nama kapal yang kami naiki saat itu, kalau bukan KM Kerinci, mungkin KM Sinabung.

Begitu sampai, kami langsung masuk ke ruang tunggu, orang-orang belum begitu ramai. Kita masih harus sabar menunggu, karena jadwal keberangkatan masih lama. Untuk mengusir rasa bosan, saya pinjam majalah seorang penumpang di sebelah saya. Ya waktu itu belum ada Android, Youtube, Instagram, bahkan layanan blog ini pun belum ada.

Setelah penantian yang menjemukan, akhirnya petugas mengumumkan melalui pengeras suara bahwa pintu gerbang menuju dermaga akan dibuka, penumpang diharap bersiap-siap. Suasana berubah drastis saat gerbang dibuka. Semua penumpang mendadak berlarian, termasuk kami. Saya bahkan masih ingat jelas bagaimana almarhumah Nenek dengan penuh semangat ikut berlari sambil menyandang tasnya (semoga Allah merahmati beliau). Sambil menggenggam tiket masing-masing untuk di cek oleh petugas, kami bergegas menuju kapal.

Proses naik ke kapal adalah perjuangan tersendiri. Kami harus berdesakan di tengah ramainya penumpang, belum lagi kuli pelabuhan hilir mudik membuat tambah sulit bergerak. Jembatan tangga menuju kapal lumayan berbahaya, salah melangkah bisa nyemplung ke laut. Beruntung ada petugas yang ikut sigap membantu.

Huuaaah.. Sampai juga kaki kami menginjak dek kapal. Rasanya lega juga setelah berdesak-desakan cukup lama. Namun perjuangan belum selesai. Kami masih harus mencari ruang kelas di tengah ramainya penumpang yang lalu lalang. Setelah beberapa kali salah arah dan bertanya kepada petugas, akhirnya kami menemukan tempat dimana kami tidur nanti.

Kapal tidak langsung bergerak, setelah menyusun barang-barang, kami cuma duduk-duduk memerhatikan orang-orang yang sibuk lalu lalang.

Bosan di ruangan kelas, saya mengajak adik naik ke geladak. Dari sini memandang jauh ke ruang tunggu, ternyata disana sudah penuh orang-orang yang mengantar penumpang. Di lantai paling atas (rooftop) ada band pengiring selamat jalan. Para pengantar dan penumpang saling melambaikan tangan. Saya juga ikut melambaikan tangan, ga tahu entah kepada siapa? Lah keluarga saya kan ikut semua di kapal. Trus, ngapain dada dada? Ya, ikut ngeramein ajalah.

Sampai akhirnya kapal pun ditarik oleh kapal pemandu hingga menjauh dari dermaga, lambaian tangan orang-orang semakin kencang, band pengiring pun memainkan lagu selamat jalan.

Klakson kapal berbunyi Tuuut.. Tuuut, disusul deru mesin kapal yang menggetarkan dek. Kapal perlahan bergerak, para pengantar dan penumpang kapal masih melambaikan tangan seolah enggan mengakhiri perpisahan. Semakin lama dermaga semakin jauh, kapal melaju kencang meninggalkan pelabuhan Belawan menuju Tanjung Priok. Gud bay Medan..

Petualangan dan Kenangan Di atas Kapal

Bagi saya, naik kapal laut itu 100% menyenangkan. Sulit rasanya membayangkan ada orang yang menganggap perjalanan ini membosankan, kecuali kalau dia memang tidak punya jiwa petualang.

Banyak sekali spot-spot di atas kapal yang bisa membuat pikiran lepas dan imajinasi mengembara seperti:
  • Menyendiri di geladak dan di anjungan atau buritan sambil menatap laut lepas sambil menikmati hembusan angin laut, ditemani lagu Always Somewhere dari Scorpions yang berputar di Walkman AIWA (waktu itu saya penikmat musik).
  • Bersantai di kafe terbuka lantai atas menikmati hembusan angin dan secangkir kopi panas.
  • Melihat gemerlapnya lampu-lampu gedung pencakar langit dan pelabuhan negara Singapura dari jarak dekat di malam hari. Seperti negeri fantasi saja rasanya.
  • Berlomba dengan kawanan lumba-lumba yang mendadak muncul di samping lambung kapal.
  • Tidur dengan getaran mesin kapal laksana pijat refleksi.
Namun, dari semua momen itu, yang paling mengesankan bagi saya adalah menjelang Subuh... Dimana ketika azan berkumandang dari pengeras suara masjid menggema ke seluruh penjuru kapal. Di situlah letak kenikmatannya. Mata masih berat oleh kantuk, pikiran pun masih setengah tidak percaya bahwa kita sedang berada di tengah lautan. Begitu keluar dari ruangan menuju geladak, wusssh... angin laut langsung menampar wajah. Ketika memandang ke arah laut, yang tampak hanyalah kegelapan pekat tanpa batas. Nyaris tak terlihat apa-apa, kecuali buih putih yang sesekali muncul saat ombak pecah. Ada rasa ngeri, tetapi sekaligus menghadirkan kesan yang sulit dilupakan.

Langsung naik ke lantai atas. Semakin tinggi, angin semakin kencang. Sesampainya di masjid, kami langsung menuju tempat wudhu. Di sana terdengar suara pompa air menderu tanpa henti. Entah mengapa, suara itu justru menjadi kenangan yang sangat spesial bagi saya. Jika penasaran, silakan baca tulisan saya: Simfoni Pompa Air di Pelataran Subuh.

Tubuh sudah menggigil diterpa angin laut, untungnya air wudhu yang mengalir terasa hangat, sehingga sedikit mengembalikan kenyamanan. Setelah masuk ke masjid, hawa dingin justru semakin terasa karena pendingin ruangan menyala. Uniknya justru suasana seperti ini yang menjadi kenangan khas yang tak terlupakan.

Suasana di kapal sangat menyenangkan, membuat saya rasanya ingin berkeliaran terus. Sayangnya, ada aturan ketat yang melarang penumpang berada di luar ruangan hingga larut malam. Alhasil, rencana untuk begadang di kafe atau menikmati angin malam di geladak terpaksa batal. Tepat jam 11 malam, seluruh penumpang harus sudah masuk ke kamar masing-masing, salah satunya untuk memudahkan petugas melakukan pemeriksaan tiket.

Zaman itu tentu saja belum ada YouTube, tradisi ngevlog, atau istilah ngonten. Untungnya, kami sudah punya kamera saku Konica otomatis. Pada masanya, kamera seperti itu sudah termasuk mewah dan andalan kami untuk mendokumentasikan semua aktivitas selama perjalanan. Sayang sekali, album fisik yang menyimpan foto-foto dokumentasi di atas kapal itu entah terselip di mana sekarang.

Setelah dua hari dua malam mengarungi lautan, kapal akhirnya merapat di Pelabuhan Tanjung Priok. Dengan berat hati kami harus menyudahi petualangan laut yang mengesankan ini. Tapi tenang... masih ada kegembiraan lain kok, raon-raon di Jakarta, wkwk..

Begitu turun, kami disambut oleh almarhum pak dan mak tuo, mereka datang membawa mobil. Mobil kok dibawa, kan berat ya?

Sampai di Jakarta, Tidak Sesuai Ekspektasi

Sepanjang jalan keluar dari pelabuhan, mata saya sibuk menatap ke luar jendela mobil. Tapi kok yang kelihatan malah sawah melulu? Mana gedung pencakar langitnya? Monas juga sama sekali tidak kelihatan. Pemandangannya rasanya sama saja dengan daerah pinggiran di luar kota Medan.

Waktu itu di kepala saya yang namanya Jakarta itu isinya pasti gedung bertingkat semua. Saya belum paham kalau Tanjung Priok itu area pinggiran pelabuhan. Kalau mau melihat Monas dan deretan pencakar langit, ya harus masuk ke pusat kotanya dulu. Lugu kali ya, wkwkwk! 😅

Ternyata perjalanan dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju rumah Mak Tuo di Batu Ceper, Tangerang, memakan waktu yang cukup lama. Kenapa semuanya serba lama ya? Badan sudah lengket dan lelah. Tapi pemandangan menuju rumah mak tuo ini adem juga, sawah-sawah, pepohonan, hamparan lahan yang tampak seperti hutan.

Setelah melewati pemandangan serba hijau, sampailah kami di sebuah komplek bernama Perumahan Angkasa Pura. Rumah-rumahnya sederhana, ada lapangan bola, dan suasananya terasa adem dilihat. Mobil perlahan memasuki kompleks, lalu setelah beberapa kali belokan, akhirnya berhenti di depan sebuah pagar. Dalam hati saya bertanya-tanya, ah, inikah rumah paman dan bibiku?

Pagar dibuka oleh seorang gadis remaja seusia saya. Saya langsung membatin, apakah dia sepupuku? Beginikah wajahnya? Jadi minder, cantik ternyata coy! 😄

Rumah paman dan bibi berlantai dua dengan model bangunan klasik, jauh dari kesan mewah. Namanya juga rumah dinas, tapi saya suka model rumah seperti ini. Adem rasanya.

Kami ditempatkan di lantai atas yang memiliki dua kamar tidur. Satu kamar milik abang sepupu, dan satu lagi kamar milik dua sepupu perempuan. Saya dan adik yang paling besar tidur di kamar abang sepupu. Sementara Ibu, almarhumah Nenek, dan adik yang paling kecil tidur bersama dua sepupu perempuan di kamar sebelah.

Saat melangkah masuk ke kamar abang sepupu, mata saya langsung disambut deretan poster musisi rocker yang terpampang memenuhi dinding. Ada Motley Crue, KISS, hingga Skid Row. Musik apa pulak ini? pikir saya waktu itu, yang seleranya masih setia di aliran pop disko-nya Milli Vanili. Siapa sangka, saya dan adik-adik akhirnya malah terpengaruh aliran Heavy Metal selama berada di Jakarta. Waktu pergi dari Medan masih pencinta pop disko, pas pulang sudah jadi anak heavy metal. Benar-benar oleh-oleh dari Jakarta.

Hari pertama itu, kami hanya sempat bersalaman dengan dua sepupu perempuan. Sementara si abang sepupu entah di mana rimbanya, sampai malam tidak kelihatan batang hidungnya. Belakangan saya baru tahu kalau dia ternyata mengungsi dan tidur di rumah temannya.

Kisah Sedih di Jakarta, Ngeri Dibilang Kuper (Kurang Pergaulan)

Hari pertama di rumah keluarga, saya mencoba jalan-jalan keliling komplek sehabis Magrib karena suntuk terus-menerus di dalam rumah. Di komplek ini, kalau sore menjelang malam, anak-anak remajanya ramai sekali ngumpul di luar. Ada yang main bola di lapangan, ada yang main badminton, ada juga yang asyik mengobrol.

Dan kasihannya, kami sama sekali tidak diajak. Ya nimbrung sendiri dong, gitu kan jawabannya? Tapi jelas tidak mungkin bagi kami yang berstatus pendatang ini tiba-tiba nimbrung membaurkan diri. Macam betol aja, bak kata orang Medan bilang. Harusnya kan para sepupu yang berinisiatif mengajak dan mengenalkan kami ke teman-temannya.

Alhasil kami cuma bisa mendekam di dalam rumah: Nonton TV, baca koran, makan, ngemil, dan dengerin walkman. Ini berlangsung selama kami berada di rumah paman dan bibi ini lho. Nasib jalan-jalan ke Jakarta..

Kembali ke cerita awal. Malam itu saya nekat berjalan keliling kompleks sendirian. Di tengah keramaian anak-anak yang sedang berkumpul, saya mencoba bersikap cuek dan terus berjalan. Tiba-tiba, langkah saya dicegat oleh seseorang.

"Kamu sepupunya Bang A, ya?" tanya anak yang mencegat tadi, saya masih ingat namanya R, dia salah satu teman abang sepupu saya.

"Iya," jawab saya singkat.

"Dipanggil Bang A, ikut yuk?" ajaknya. Kira-kira seperti itulah percakapannya, detail persisnya saya sudah agak lupa karena kejadiannya sudah sangat lama.

Saya pun mengekor di belakangnya. Di balik sebuah pos, rupanya anak-anak komplek sedang ramai berkumpul, termasuk abang sepupu saya. Saya dibawa ke sana mungkin memang untuk dikenalkan. Tapi kok caranya kurang enak begini, ya? Itu pun terjadi karena saya iseng keluar rumah. Kalau saya cuma diam di dalam, rasanya si abang sepupu tidak akan pernah berinisiatif mengenalkan kawan-kawannya kepada saya.

Asli, saya langsung mati kutu di tengah-tengah mereka, padahal saya kan ga kutuan. Hilang gaya saya. Anak-anak komplek itu berbicara gaul dengan bahasa Jakarta yang kental: lu-gue, lu-gue, buset, nape lu. Jelas sama sekali tidak masuk dengan karakter saya.

Alhasil, saya lebih banyak diam. Untuk mengurangi rasa canggung dan kaku, saya terpaksa menghisap rokok Marlboro yang mereka tawarkan, padahal saya tidak merokok saat SMA. Entah cuma perasaan saya atau memang benar terjadi, di sela-sela obrolan itu saya sempat mendengar salah satu dari mereka berbisik: "Kuper!"

Setelah kejadian itu, spirit saya langsung down, ada perasaan minder, kenapa ya saya ga bisa luwes dan cepat beradaptasi dengan lingkungan? Ngeri rasanya DIBILANG KUPER (KURANG PERGAULAN)

Saya langsung kehilangan mood berada di Jakarta. Baru satu hari lewat, artinya masih ada sisa 29 hari lagi ke depan. Lama kaleee. Bukan cuma saya, adik saya pun mengeluhkan hal yang sama; kami rasanya ingin langsung pulang saja ke Medan.

Setelah bertahun-tahun berlalu, baru saya menyadari satu hal: kami (saya, mendiang kakak, dan adik-adik) memang "tidak disambut hangat" oleh para sepupu. Dalam artian, kami tidak bisa dengan mudah diterima akrab oleh mereka. Ya, maklum saja, kami bukan anak gaul. Kami hanyalah anak-anak rumahan yang polos, sederhana, dan tidak neko-neko.

Kedatangan kami tidak disambut oleh para sepupu, kami pun tidak diajak untuk diperkenalkan oleh teman-teman mereka. Mungkin ya, mereka tidak bermaksud sombong, sudah seperti itu karakter mereka. Ada orang yang luwes, ada yang memang cuekan. Tapi kalau itu di pihak kami yang kedatangan tamu, pasti akan kami sambut, khusus sesama anak muda. Setidak nyamannya bertemu dengan saudara yang belum dikenal (segan), pasti kami akan menyambut saudara-saudara yang datang menginap, dan menemaninya. Begitu yang diajarkan orang tua kami.

Kenangan Yang Pahit Justru Menjadi Manis

Seminggu kami habiskan di Batu Ceper, dilanjutkan seminggu berikutnya menginap di Jati Bening, Bekasi, di rumah almarhumah Tante (adik Ibu). Seminggu setelah itu, kami pindah lagi ke daerah Kampung Rambutan, di rumah almarhum Paman (adik Ayah). Liburan sebulan penuh itu akhirnya ditutup dengan kembali lagi ke rumah Bibi di Batu Ceper pada minggu terakhir. Sebenarnya saat itu saya sudah terlanjur malas; rasanya ingin langsung pulang saja ke Medan.

Satu-satunya hal yang membuat kami tetap bersemangat adalah saat pergi ke tempat-tempat wisata seperti Monas, Ancol, Lubang Buaya, Taman Mini, dan Sea World. Tempat-tempat itulah yang menjadi penggembira hati kami. Ibu saya khusus menyewa mobil selama seminggu penuh agar kami bisa raon-raon mengitari kota Jakarta, agar kami tidak mendekam saja di rumah.

Namun anehnya, justru hal-hal yang menyakitkan tadi akhirnya berubah menjadi kenangan paling spesial. Pengalaman yang tidak mengenakkan biasanya memang akan terus diingat dan takkan pernah terlupakan, walau kita sama sekali tidak ingin mengulanginya lagi. Jujur saja, semenjak insiden dibilang kuper malam itu, ada trauma tersendiri yang membekas di dalam diri saya. Sejak saat itu, saya tumbuh menjadi remaja yang sempat kehilangan rasa percaya diri. Who knows? Cuma Allah yang Tahu.

Saat itu ingin rasanya saya menjadi remaja yang rusak: Pemakai narkoba, pemabuk, remaja yang bandel, dan sejuta kenakalan lainnya. Makin bandel, makin rusak, makin bangga saya, agar predikat Kuper tadi itu bisa hilang. Tapi itu tidak pernah terwujud. Saya, kakak, dan adik-adik tetap menjadi anak rumahan yang polos, baik, ga neko-neko, rajin ibadah (maaf ya ga maksud riya)

Namun, setelah tumbuh besar dan dewasa, saya justru berbalik merasa sangat bangga. Saya bangga pernah menjadi "anak kuper" yang berhasil membentengi diri dari jeratan narkoba, tawuran, seks bebas, dan berbagai kenakalan remaja lainnya. Saya bangga bisa tumbuh menjadi pribadi yang menjaga nilai agama dan terhindar dari jalan yang rusak.

● ● ●

Ya, itulah sepotong kisah perjalanan masa silam saya. Saya menuliskannya kembali bukan untuk mengungkit luka lama, melainkan sekedar mengabadikan serpihan kenangan. Dalam perjalanan itu ada keseruan, ada kegembiraan, dan kebetulan, ada pula kedukaan.

Sekarang, setiap kali saya merenung dalam suasana yang mirip dengan kisah di atas, ingatan saya sering kali terbang kembali ke tahun 1989 tersebut. Kisah menyendiri di geladak kapal dengan hembusan angin laut, menatap laut lepas di kegelapan malam, hingga suasana Subuh yang hening dengan senandung deru pompa air, kini telah bertransformasi menjadi memori yang sangat khusus bagi kami, terutama saya pribadi.

Hal-hal menyakitkan yang sempat memicu trauma berkepanjangan itu akhirnya pupus seiring berlalunya waktu dan bertambahnya usia. Namun, hikmah dari setiap kejadian akan selalu bisa dipetik. Tik... tik...

(in my room, hampir midnait) Hubungan saya dengan para sepupu baik-baik aja kok, tidak ada permusuhan. Ini hanya sekedar mengenang masa lalu khususnya perjalanan di kapal laut. Mereka juga pernah berkunjung balik ke Medan dan kita bersosialasi dengan keakraban.

Difan

Menulis itu bukan karena kita tahu banyak, tapi karena banyak hal yang ingin kita tahu

Post a Comment

Previous Post Next Post