Semenjak Pemilu pasangan Prabowo - Sandi, banyak para komentator-komentator kritis dan pakar-pakar kritik bermunculan, entah siapa yang memeloporinya. Tiba-tiba ramai medsos bersuara lantang. Sejak saat itu kalau ada yang dirasa tidak adil, tidak cocok dengan keinginan mereka, mereka akan viralkan.
Sepintas, ini terlihat seperti kemajuan intelektual, warga negara yang peduli pada isu global dan kebijakan domestik. Namun, jika ditelisik lebih dalam, kita sedang menghadapi fenomena Overdosis Daya Kritis.
Faktanya, sering kali para netizen ini tidak paham akar masalah dan minim literasi. Bermodal potongan berita singkat di media sosial, mereka sudah merasa menjadi si paling dapat informasi dan mengerti keadaan. Bahkan, tak jarang mereka justru lebih galak dan ngeyel saat disodori fakta yang sebenarnya.
Geopolitik di Ujung Jari: Antara Heroisme dan Realita
Mari kita lihat bagaimana netizen +62 merespons konflik Iran. Hanya karena iran perang dengan mamarika dan israhell, berjuta umat netizen mengelu-elukan iran. Iran dianggap sebagai satu-satunya pahlawan pembela umat, tanpa mau melihat kompleksitas kepentingan politik regional dan sektarian yang ada di baliknya.Fakta bahwa iran adalah syiah, fakta iran terlibat pembunuhan ummat Islam Iraq dan Suriah, fakta iran mengeksekusi ahlussunnah (sunni), semua ini tak kan diterima, tak kan didengar, seolah mereka sudah dapat bukti yamg paling otentik dari sebuah sumber yang bernama: MEDSOS.
Keberanian netizen dalam menghakimi peta politik dunia terkadang tidak sebanding dengan pemahaman mereka terhadap sejarah yang objektif. Mereka terlalu mudah mabuk pada pencitraan dan heroisme layar kaca, sementara fakta-fakta nyata di lapangan seringkali diabaikan demi memuaskan dahaga opini yang heroik.
Paradoks Makan Gratis (MBG): Si Paling Kritik Tapi Si Paling Gratisan
Pindah ke isu domestik: Makan Bergizi Gratis (MBG). Ini adalah salah satu contoh paling nyata dari "Overdosis Kritis". Pemerintah mencoba memberikan solusi nyata untuk perbaikan gizi, sebuah program yang dibiayai negara alias tidak memungut biaya dari penerima manfaatnya.Namun, apa yang terjadi di ruang komentar? Kritik membanjir seolah-olah pemerintah sedang menjual paket katering mahal yang kualitasnya buruk. "Lauknya cuma gini?", "Gizinya mana?", "Pasti dikorupsi!", "MBG ini tak gratis, ini diambil pajak kita!"
Ada sebuah paradoks besar di sini. Banyak dari mereka yang paling kencang berteriak menuntut kualitas "Bintang Lima" (baca: bergizi) adalah orang-orang yang mungkin kewajiban dasar sebagai warga negara saja belum tuntas. Berapa banyak dari pengkritik ini yang tertib membayar pajak? Berapa banyak yang berkontribusi nyata pada lingkungan sekitarnya? Mengkritik pemberian gratis dengan standar selangit sambil menutup mata pada fakta bahwa itu adalah bantuan, menunjukkan hilangnya rasa syukur yang tertutup oleh rasa ingin dianggap kritis.
Perbedaan 1 Ramadhan dan Syawal: Si Paling Bijaksana Menerima Perbedaan, Padahal Mau Menang Sendiri
Banyak orang merasa bahwa dengan mengikuti metode tertentu (misalnya murni perhitungan astronomi/hisab), mereka lebih "modern" atau "saintifik" dibandingkan mereka yang menunggu pengamatan hilal (rukyat). Rasa lebih tahu ini seringkali berubah menjadi sikap merendahkan keputusan pemerintah yang berusaha mengakomodasi berbagai metode.Narasi yang sering digaungkan "menghargai perbedaan" sering kali digunakan sebagai tameng defensif.
Faktanya: Netizen sering menggunakan slogan tersebut saat kelompoknya memulai puasa atau lebaran lebih dulu/berbeda agar tidak dikritik.
Kontradiksinya: Namun, ketika pemerintah (Kemenag) mengeluarkan hasil Sidang Isbat yang berbeda, mereka berubah menjadi ofensif. Mereka menyerang otoritas dengan narasi "boros anggaran", "kaku", atau "ketinggalan zaman". Ini membuktikan bahwa toleransi yang mereka gaungkan hanya satu arah
Solusinya: Ikut keputusan pemerintah itu lebih menyamankan hati, menghilangkan perbedaan, tampak simbol persatuan ummat. Tapi yaaah, karena level kritisnya sudah level akut, ya begitu jadinya.
Kesimpulan
Menjadi kritis itu perlu, bahkan wajib bagi warga negara yang sehat. Namun, kritis tanpa dasar data hanyalah kebisingan. Kritis tanpa wawasan ilmu adalah tak tahu malu. Dan kritis tanpa kontribusi nyata hanyalah sebuah kemunafikan yang dipoles kata-kata indah.Biasakan sebelum mengkritisi, ketahui dulu masalahnya, akar masalahnya, konteks sejarah, apalagi kalau anda mengkritisi masalah konflik antar negara yang penuh muatan politis, ga bisa selugu itu berkomentar.
Biasakan juga terapkan sikap adil dan proporsional. Jadi anda itu ga cuma mengkritik tapi juga memberikan solusi/pencerahan.
Dan ini yang paling penting, sebelum mengkritik, kritik dulu diri anda sendiri. Ada pepatah kuno: "Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak." Seringkali, apa yang kita benci dari orang lain sebenarnya adalah cerminan dari kekurangan kita sendiri yang tidak ingin kita akui.
Kritik boleh, Latah jangan, Okee...!!!!

Post a Comment