Bukan Basa-basi, Memang Faktanya Seperti Itu

masakan sibolga mirip masakan minang
Di media sosial atau dalam keseharian, kita sering melihat orang memuji masakan keluarganya setinggi langit. Ada yang bilang masakan ibunya paling enak sedunia, atau masakan istrinya juara nomor satu. Padahal, kalau dicicipi secara objektif oleh orang lain, rasanya mungkin biasa saja, bahkan kadang kurang pas di lidah.

Tapi bagi saya, hal itu sah-sah saja. Saya tidak pernah mau protes. Namanya juga bentuk kasih sayang dan rasa bangga terhadap keluarga sendiri. Wajar kalau subjektivitas bermain di sana, karena bagi banyak orang, rasa masakan sering kali tidak bisa dilepaskan dari seberapa besar mereka mencintai orang yang memasaknya.

Hanya saja, prinsip itu tidak berlaku buat saya pribadi. Tidak ada kamus basa-basi di meja makan. Kalau urusan makanan di rumah, saya orangnya sangat apa adanya. Kalau masakan keluarga saya memang kurang enak atau gagal, ya saya akan bilang apa adanya: "ga enak, keasinan atau kurang garam."

Bagi saya, tidak ada istilah memuji makanan yang rasanya tidak enak hanya karena yang memasak adalah ibu atau orang terdekat. Buat apa berbohong demi menjaga perasaan Kejujuran justru bentuk kepedulian yang paling tulus agar ke depannya masakan tersebut bisa diperbaiki. Hubungan keluarga yang hangat tidak harus dirusak oleh kepura-puraan di meja makan.

Untungnya, saya tidak pernah harus repot-repot mencari alasan untuk berbohong. Kenapa? Karena ibu saya memang benar-benar jago memasak.

Keahlian beliau di dapur bukan sekadar coba-coba, melainkan warisan turun-temurun. Garis keturunan kuliner di keluarga kami mengalir begitu kuat. Semua Uci-uci kami (Uci = nenek) pintar memasak, begitu juga dengan bibi-bibi kami. Tanggung jawab dan kepiawaian meracik bumbu seolah sudah menjadi darah daging di dalam keluarga besar kami.

Kepintaran keluarga saya pandai memasak bukan tanpa sebab. Karena kami adalah orang Pasisi Sibolga. Orang Sibolga itu sama dengan Minang dalam hal kepandaian memasak. Masakan Sibolga juga mirip dengan masakan Minang, bahkan sama persis, baik rasa dan jenisnya.

Wanita-wanita Sibolga generasi dulu memang pintar memasak, kenapa? Karena para wanitanya lebih banyak sibuk di dapur membantu ibu-ibu mereka. Selain itu Sibolga memang banyak dipengaruhi oleh kultur Minang, dari budaya sampai masakannya.

Saat Uci (ibunya ibu saya) masih ada, beliau lah yang sering memasak untuk kami, baik untuk makanan sehari-hari atau pun saat hari raya. Masakan beliau sangat enak, hingga saat hari raya jadi berkesan khusus bagi kami.

Masih membekas di ingatan saya, jelang dua hari raya, almarhum ayah sibuk menganyam daun ketupat, dibantu ibu dan almarhumah Uci yang memasukkan beras kedalam anyaman tersebut. Esoknya ayah memotong ayam, sementara di belakang ibu dan Uci sibuk memasak ketupat dan gulai serta makanan lainnya (sedih kalau ingat ini 😢)

Saking udah terbiasa tiap hari makan masakan Uci yang enak cita rasanya, efeknya saya jadi pilah pilih makanan kalau lagi di rumah orang. Saya ga gampang suka dengan masakan orang lain. Disangka saya ga congok (lahap) dengan makanan, padahal rajanya.

Uci saya itu koki the best (semoga Allah merahmati Beliau), semasa mudanya beliau memang seorang koki. Kepintaran beliau memasak diteruskan oleh ibu saya. Tapi masakan ibu masih belum setara dengan masakan Uci (nenek saya).

Saat Uci saya telah tiada, lama kami tidak lagi menyicipi masakan beliau. Walau masakan ibu juga oke, sekilas tak ada perbedaan. Tapi ada sedikit cerita, di tahun 2012 saya pernah pulang ke Sibolga, itu terakhir saya kesana bersama ibu dan bibi (adik perempuan ibu). Kita mampir di kediaman almarhumah Unde (kakak ayah), dan saat menyicipi masakan Unde, Masya Allah nikmatnya. Padahal cuma gulai ikan tongkol, tapi sangat enak rasanya, kuat citarasa Minangnya. Disitu saya teringat almarhumah Uci saya, gulai ikan tongkol buatan Unde mirip dengan yang dibuat Uci saya. Nah disitulah baru nampak perbedaan masakan ibu dan Uci saya.

Orang-orang yang saya cintai sebagian telah berpulang. Kini hanya menceritakan kenangan mereka. Sekarang cuma tinggal ibu saya. Beliau sudah tua, tentu saja masakan beliau tidak se-maknyus dulu saat beliau masih muda.

Karena itulah kenapa rumah bukan sekadar tempat untuk pulang bagi saya. Rumah adalah tempat saya menemukan rasa yang sudah akrab sejak kecil. Nah disinilah saya baru menemukan jawaban kenapa saya ga betah lama di luar, dulu saya pernah merantau ke Jakarta, ga betah Men, selalu rindu pulang ke rumah.

Saya tidak perlu memuji masakan ibu secara berlebihan, apalagi mengatakan semuanya enak kalau kenyataannya tidak demikian. Saya tetap akan jujur kalau ada yang kurang.

Namun, ketika saya mengatakan masakan ibu enak, percayalah, itu bukan basa-basi. Saya memang menyukainya. Dan ketika melihat kemampuan memasak itu ternyata juga dimiliki nenek dan bibi-bibi saya, ada kebanggaan tersendiri yang sulit dijelaskan.

Mungkin setiap orang punya alasan masing-masing untuk bangga terhadap keluarganya. Ada yang bangga karena pendidikan, pekerjaan, atau pencapaian orang-orang terdekatnya. Sementara saya: bangga terhadap keluarga karena jago mengolah kuliner.

Saya bangga menjadi anak Pasisi Sibolga. Sebab, ada cita rasa, kebiasaan, dan tradisi yang ikut membentuk siapa saya hari ini. Dan walau warisan itu tidak lagi dijaga dari generasi ke generasi (maklum yang sepuh sudah pada ga ada), saya akan selalu tetap bangga dengan keluarga Pasisi saya dan tentu saja rindu pulang ke rumah.

(November in Rain 2026, masih berjuang dalam sepi)

Difan

Menulis itu bukan karena kita tahu banyak, tapi karena banyak hal yang ingin kita tahu

Post a Comment

Previous Post Next Post