Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh..
Jumpa lagi bersama saya, Difan Mardifan. Belakangan ini saya cukup banyak mengulas seputar budaya Pesisir dan Batak. Bukan tanpa alasan, langkah ini dipicu oleh maraknya tayangan di Youtube dan Instagram yang menampilkan sudut pandang sebagian orang Batak yang terasa kurang adil dan cenderung menggeneralisasi (gebyah uyah). Hati saya tergerak untuk menuliskan pencerahan ini.
Bukan bermaksud menyanjung-nyanjung budaya, saya tahu budaya itu tidak kita bawa mati menghadap-Nya nanti, apalagi budaya yang melanggar Syariat-Nya, tentu harus kita tinggalkan. Artikel ini murni menjadi ruang untuk menyampaikan opinis kritis terhadap fenomena fanatisme suku yang berlebihan, terutama tindakan memaksakan kehendak identitas kepada etnis lain.
Simak terus artikelnya ya?
● ● ●
Suku apa yang paling bangga dengan sukunya sendiri? Ada yang tahu? Yup, benar sekali, suku Batak! Seseorang pernah bilang, orang Batak yang paling bangga dengan sukunya biasanya Batak Kristen.
Orang Batak itu hormat sekali dengan budayanya dan punya ikatan kekerabatan yang sangat kuat. Sampai-sampai kalau ketemu sesama orang Batak di perantauan, antusiasnya luar biasa.
"Ise goarmu?"
"Joni Sipahutar!
"Bah, Sipahutar do ho, tulang au?"
"Olo Bere?"
"Pinjam dulu seratus?"
"&%$#@/?!?"
Begitulah, tapi kalau yang gini sih ga masalah, takjub ketemu sesama suku di perantauan, ya wajarlah. Yang masalah itu kalau ada upaya pemaksaan indentitas. Maksain semua suku yang mirip Batak, dianggapnya Batak. Padahal yang dianggap Batak tak mau dibilang Batak, karena merasa bukan Batak.
Etnis-etnis seperti Karo, Pakpak, Simalungun, Angkola, Mandaling, Padang Lawas, Pasisi Sibolga - Tapteng, mereka klaim Batak. Demi mengikat tali persaudaraan serumpun (dalihan na tolu), mereka paksa etnis-etnis tersebut masuk ke dalam suku Batak Toba mereka.
Jika etnis-etnis tersebut menolak dikatakan Batak. Para Batak ini ga terima, mereka anggap etnis-etnis tersebut lupa asal usul atau menghianati silsilah (Tarombo) Batak.
Maka supaya lebih kuat, di korek-koreklah silsilah nenek moyangnya.
"Oh Siregar itu dari Toba, masih ada marga Siregar disana, begitu juga Pasaribu, itu juga dari Toba. Dulu ratusan tahun lalu Opung Anu bermigrasi ke daerah Anu, dan membuka pemukiman, maka berkembanglah sebuah kampung bernama Sitolobatu disana, dari situlah cikal bakal marga kau ini, kata si Batak tadi. Bah, maksa kali pun kau..!!"
Atau kalau ada komunitas rumpun Batak yang sudah jadi Islam, dibilangnya lah Bataknya sudah tak original, karena sudah terpengaruh Minang-Melayu. Bah, macam udah original kali kau rupanya, Batak-mu saja pun terpengaruh oleh keyakinan misionaris Kristen. Kalau kau mau original, kau ikuti terus agama Parmalim yang dianut oleh Opung Sisingamangaraja itu?
Bahkan saya tak memasukkan marga di belakang nama. Bukan cuma saya, adik-adik dan mendiang kakak pun begitu. Kita tak ada mencantumkan marga dibelakang nama. Untuk apa sih, emang kalau dicantumkan marga, terus ketemu orang Batak, bakal dikasih duit gitu?
Padahal saya orang Batak, almarhum ayah saya bermarga Batak, ada campuran Minang. Ibu saya bermarga Angkola, juga ada campuran Minang. Dalam kehidupan keluarga kami, bahkan keluarga besar ayah dan ibu saya, tak selembar budaya Batak pun yang saya rasakan.
Almarhum ayah saya dan ibu adalah orang Pasisi Sibolga, almarhumah nenek-nenek saya adalah orang Minang/Pasisi Sibolga. Jadi kultur Pasisi lah yang akrab saya rasakan dari kecil sampai besar. Tak pernah kami memanggil nenek-nenek dan kakek kami dengan panggilan Opung, kami sering memanggil Uci dan Angku. Tak pernah kami memanggil tulang, Eda, Namboru. Kami familiar dengan panggilan Mak Tuo, Uning, Ogek, Cek Ketek, Mak Tanga, Unde.
Jadi terasa janggal kalau saya harus dibilang Batak. Hanya karena bermarga, terus harus mengaku Batak gitu? Bah, bahasa Batak pun awak tak tahu. Saya lebih suka dibilang orang Medan daripada orang Batak.
Selain itu perawakan kami sekeluarga pun tidak mirip orang Batak umumnya. Orang-orang selalu mengira kami orang Jawa atau Minang. Jadi klop lah tenggelam sudah Batak kami.
Orang Batak baca ini langsung panas dingin dan berucap, "Dasar Batak Durhaka! Lupa kacang akan kulitnya! Dan saya pun di blacklist dari silsilah Batak 😀
Di sisi lain, orang-orang Batak Toba yang kekeuh ngotot sering kali berangkat dari sudut pandang yang beda lagi: tarombo atau silsilah. Bagi mereka, tarombo itu bukan sekadar garis keturunan di atas kertas, tapi semacam pegangan hidup dan pengikat rasa persaudaraan. Pas mereka tarik garis kalau marga tertentu di Karo atau Simalungun itu berasas dari keturunan Toba yang merantau ratusan tahun lalu, mereka menganggap itu sebagai bukti kalau kita ini "satu darah, satu nenek moyang". Di mata mereka, menolak sebutan Batak itu rasanya seperti ada saudara yang lupa sama asal-usul atau memutus tali kekeluargaan.
Identitas tersebut hidup dan berkembang. Orang Karo atau Mandailing berhak menentukan bagaimana mereka ingin dipanggil dan diakui hari ini. Identitas bukan cuma soal siapa nenek moyang lima ratus tahun lalu, tapi juga soal sejarah, perjalanan agama, dan rasa memiliki terhadap komunitasnya sekarang.
Mengakui kalau Karo, Pakpak, Simalungun, atau Angkola punya identitas mandiri itu sama sekali nggak mengurangi nilai sejarah siapa pun. Sebaliknya, menghargai ikatan silsilah masa lalu juga bukan berarti harus mengorbankan identitas lokal yang sudah terbentuk berabad-abad. Pada akhirnya, menghormati bagaimana seseorang memilih untuk mengidentifikasi dirinya sendiri adalah jalan paling dewasa. Sederhana aja: kalau ada yang mau dipanggil Karo dan nggak mau disebut Batak, ya hargai. Ngga perlu dipaksa pakai narasi silsilah sampai urat leher keluar.
Dan.... ini yang penting, budaya itu tak dibawa mati. Bagi orang Batak Muslim, kalau dia sudah jadi Muslim, maka budaya Bataknya tak dipakai lagi, apalagi jika budaya tersebut melanggar Syariat Agamanya, tinggalkan..!!!
Setuju kan Ito..??
Jumpa lagi bersama saya, Difan Mardifan. Belakangan ini saya cukup banyak mengulas seputar budaya Pesisir dan Batak. Bukan tanpa alasan, langkah ini dipicu oleh maraknya tayangan di Youtube dan Instagram yang menampilkan sudut pandang sebagian orang Batak yang terasa kurang adil dan cenderung menggeneralisasi (gebyah uyah). Hati saya tergerak untuk menuliskan pencerahan ini.
Bukan bermaksud menyanjung-nyanjung budaya, saya tahu budaya itu tidak kita bawa mati menghadap-Nya nanti, apalagi budaya yang melanggar Syariat-Nya, tentu harus kita tinggalkan. Artikel ini murni menjadi ruang untuk menyampaikan opinis kritis terhadap fenomena fanatisme suku yang berlebihan, terutama tindakan memaksakan kehendak identitas kepada etnis lain.
Simak terus artikelnya ya?
Suku apa yang paling bangga dengan sukunya sendiri? Ada yang tahu? Yup, benar sekali, suku Batak! Seseorang pernah bilang, orang Batak yang paling bangga dengan sukunya biasanya Batak Kristen.
Orang Batak itu hormat sekali dengan budayanya dan punya ikatan kekerabatan yang sangat kuat. Sampai-sampai kalau ketemu sesama orang Batak di perantauan, antusiasnya luar biasa.
"Ise goarmu?"
"Joni Sipahutar!
"Bah, Sipahutar do ho, tulang au?"
"Olo Bere?"
"Pinjam dulu seratus?"
"&%$#@/?!?"
Begitulah, tapi kalau yang gini sih ga masalah, takjub ketemu sesama suku di perantauan, ya wajarlah. Yang masalah itu kalau ada upaya pemaksaan indentitas. Maksain semua suku yang mirip Batak, dianggapnya Batak. Padahal yang dianggap Batak tak mau dibilang Batak, karena merasa bukan Batak.
Etnis-etnis seperti Karo, Pakpak, Simalungun, Angkola, Mandaling, Padang Lawas, Pasisi Sibolga - Tapteng, mereka klaim Batak. Demi mengikat tali persaudaraan serumpun (dalihan na tolu), mereka paksa etnis-etnis tersebut masuk ke dalam suku Batak Toba mereka.
Jika etnis-etnis tersebut menolak dikatakan Batak. Para Batak ini ga terima, mereka anggap etnis-etnis tersebut lupa asal usul atau menghianati silsilah (Tarombo) Batak.
Maka supaya lebih kuat, di korek-koreklah silsilah nenek moyangnya.
"Oh Siregar itu dari Toba, masih ada marga Siregar disana, begitu juga Pasaribu, itu juga dari Toba. Dulu ratusan tahun lalu Opung Anu bermigrasi ke daerah Anu, dan membuka pemukiman, maka berkembanglah sebuah kampung bernama Sitolobatu disana, dari situlah cikal bakal marga kau ini, kata si Batak tadi. Bah, maksa kali pun kau..!!"
Atau kalau ada komunitas rumpun Batak yang sudah jadi Islam, dibilangnya lah Bataknya sudah tak original, karena sudah terpengaruh Minang-Melayu. Bah, macam udah original kali kau rupanya, Batak-mu saja pun terpengaruh oleh keyakinan misionaris Kristen. Kalau kau mau original, kau ikuti terus agama Parmalim yang dianut oleh Opung Sisingamangaraja itu?
Ga Suka dan Ga Bangga Dengan Batak
Jujur, dari kecil saya ga suka dengan Batak, ga tahu kenapa. Mungkin karena dari kecil tidak familiar dengan budaya Batak. Alasan lainnya mengapa saya tidak suka Batak karena adat, adab dan budayanya. Orang Batak itu kebanyakan suka seenaknya, kasar, j*r*k (ga semua, tapi kebanyakan), suka minum tuak dan makan B1, B2 (ga semua, tapi kebanyakan), dan sebagian dari mereka banyak yang jadi preman.Tidak semua orang Batak begini ya? Bagi orang-orang Batak yang baik dan lembut hatinya serta tak fanatik buta dengan sukunya, tulisan ini bukan untuk anda.Mungkin karena budayanya yang masih animisme atau karena keyakinan yang berbeda, tapi waktu kecil saya suka lagu-lagu Batak.
Bahkan saya tak memasukkan marga di belakang nama. Bukan cuma saya, adik-adik dan mendiang kakak pun begitu. Kita tak ada mencantumkan marga dibelakang nama. Untuk apa sih, emang kalau dicantumkan marga, terus ketemu orang Batak, bakal dikasih duit gitu?
Padahal saya orang Batak, almarhum ayah saya bermarga Batak, ada campuran Minang. Ibu saya bermarga Angkola, juga ada campuran Minang. Dalam kehidupan keluarga kami, bahkan keluarga besar ayah dan ibu saya, tak selembar budaya Batak pun yang saya rasakan.
Almarhum ayah saya dan ibu adalah orang Pasisi Sibolga, almarhumah nenek-nenek saya adalah orang Minang/Pasisi Sibolga. Jadi kultur Pasisi lah yang akrab saya rasakan dari kecil sampai besar. Tak pernah kami memanggil nenek-nenek dan kakek kami dengan panggilan Opung, kami sering memanggil Uci dan Angku. Tak pernah kami memanggil tulang, Eda, Namboru. Kami familiar dengan panggilan Mak Tuo, Uning, Ogek, Cek Ketek, Mak Tanga, Unde.
Jadi terasa janggal kalau saya harus dibilang Batak. Hanya karena bermarga, terus harus mengaku Batak gitu? Bah, bahasa Batak pun awak tak tahu. Saya lebih suka dibilang orang Medan daripada orang Batak.
Selain itu perawakan kami sekeluarga pun tidak mirip orang Batak umumnya. Orang-orang selalu mengira kami orang Jawa atau Minang. Jadi klop lah tenggelam sudah Batak kami.
Orang Batak baca ini langsung panas dingin dan berucap, "Dasar Batak Durhaka! Lupa kacang akan kulitnya! Dan saya pun di blacklist dari silsilah Batak 😀
Mereka Punya Indentitas, Hargai Jati Diri Mereka
Ketika seseorang bilang "Batak", yang terbayang di benak publik mayoritas itu hampir selalu budaya Toba, mulai dari logat, gaya bicara, sampai adat-istiadatnya. Padahal, etnis Karo punya sistem tutur sendiri (marga silima), Pakpak punya budayanya sendiri, Simalungun punya sejarah kerajaannya sendiri, dan wilayah Pesisir/Tapteng punya identitas melayu-pesisir yang khas, begitu juga Angkola dan Mandailing. Begitu identitas mereka dilebur begitu saja, ada rasa seolah keunikan dan sejarah lokal mereka dihapus secara halus.Di sisi lain, orang-orang Batak Toba yang kekeuh ngotot sering kali berangkat dari sudut pandang yang beda lagi: tarombo atau silsilah. Bagi mereka, tarombo itu bukan sekadar garis keturunan di atas kertas, tapi semacam pegangan hidup dan pengikat rasa persaudaraan. Pas mereka tarik garis kalau marga tertentu di Karo atau Simalungun itu berasas dari keturunan Toba yang merantau ratusan tahun lalu, mereka menganggap itu sebagai bukti kalau kita ini "satu darah, satu nenek moyang". Di mata mereka, menolak sebutan Batak itu rasanya seperti ada saudara yang lupa sama asal-usul atau memutus tali kekeluargaan.
Identitas tersebut hidup dan berkembang. Orang Karo atau Mandailing berhak menentukan bagaimana mereka ingin dipanggil dan diakui hari ini. Identitas bukan cuma soal siapa nenek moyang lima ratus tahun lalu, tapi juga soal sejarah, perjalanan agama, dan rasa memiliki terhadap komunitasnya sekarang.
Mengakui kalau Karo, Pakpak, Simalungun, atau Angkola punya identitas mandiri itu sama sekali nggak mengurangi nilai sejarah siapa pun. Sebaliknya, menghargai ikatan silsilah masa lalu juga bukan berarti harus mengorbankan identitas lokal yang sudah terbentuk berabad-abad. Pada akhirnya, menghormati bagaimana seseorang memilih untuk mengidentifikasi dirinya sendiri adalah jalan paling dewasa. Sederhana aja: kalau ada yang mau dipanggil Karo dan nggak mau disebut Batak, ya hargai. Ngga perlu dipaksa pakai narasi silsilah sampai urat leher keluar.
Dan.... ini yang penting, budaya itu tak dibawa mati. Bagi orang Batak Muslim, kalau dia sudah jadi Muslim, maka budaya Bataknya tak dipakai lagi, apalagi jika budaya tersebut melanggar Syariat Agamanya, tinggalkan..!!!
Setuju kan Ito..??
