Anda pernah mengalami kepahitan / kesusahan hidup, kesedihan (terus menerus), umpama: kehilangan pekerjaan (mata pencaharian), keadaan anak yang tidak seperti anak normal kebanyakan, susahnya mencari nafkah, kehilangan orang yang disayangi.

Saat kesulitan hidup baru usai, esoknya muncul lagi kesulitan hidup lainya, belum lagi usai muncul lagi yang lainnya. Bertubi-tubi menghantam dan menerpa.

Kesulitan dan kepahitan tersebut belum pernah engkau alami, dan serasa baru itu lah engkau mengalaminya.

Pernahkah...???

Kalau engkau orang baik dan taat kepada Allah tapi mendapat musibah, bersyukurlah (walau saya belum bisa seperti ini), bahwasanya engkau itu disayang oleh Allah. Engkau itu sedang diuji olehNya.

Kalau si hamba sabar dalam ujian, maka akan mendapat ridha Allah, siapa yang tak sabar, Allah akan murka.

Nah di titik inilah sering seorang pendakwah itu "memaksakan" kata sabar kepada orang-orang yang mendapatkan musibah (ujian).

Sabar..!! Jangan mengeluh dengan ujian hidup, karena itu akibat dari dosa-dosamu sendiri!

Jangan protes dan overthinking, bersikaplah tenang, tinggal main hati aja!

Semua orang juga mendapatkan beratnya ujian, bukan cuma ente.

Kalau tak bisa bersabar maka Allah akan meninggalkanmu.

Jangan sedih kehilangan sesuatu yang disayangi karena itu cuma dunia, bla..bla.."


Rasanya gimana gitu ya? Ngomong segampang itu! Dikiranya semua orang itu imannya top level gitu.

Disaat kita mengalami kesulitan hidup, ditinggal orang yang disayangi, hati ini patah dan hancur, nyaris tak ada lagi semangat hidup, eh jumpa dengan nasehat-nasehat kayak tulisan bold berwarna merah diatas. Tambah hancur, tambah tak karuan, tambah putus asa rasanya.

Biasanya tu ya, nasehat-nasehat diatas itu gencar dilakukan oleh kebanyakan sebagian pendakwah Salafy, walau pun saya seorang Salafy juga. Disclaimer: Tidak semua salafy atau ustadz-ustadz Salafy seperti yang dimaksudkan.

Terkadang ada benarnya juga orang-orang bilang: Salafi (terutama di kalangan penuntut ilmu level bawah) ini berdakwah sering tanpa hikmah (asyik sendiri), yang penting gue sampein itu benar dan sesuai dalil, ente harus terima, kalo ga terima, ente keluar jalur!

Contoh lain: Saat Ramadhan, mereka memaksakan ibadah-ibadah sunnah seperti Taraweh di masjid itu seolah wajib hukumnya, tidak boleh sholat di rumah kecuali ada udzur syar'i kata mereka, luar biasa kan? Padahal Nabi sengaja tidak sholat Taraweh di masjid setiap hari karena takut menyusahkan ummatnya

Begitulah, terlalu memaksakan, to the point, tekstual, kaku dan lainnya. Walau pun hal tersebut berusaha saya pungkiri, tapi kalau dicermatin ada benarnya juga. Mereka itu menggampangkan sesuatu yang memang tak gampang.

Seperti saya katakan diatas, sor sendiri kalau kata orang Medan bilang. Mungkin karena saking semangatnya menimba ilmu, jadi mereka pikir semua semua orang harus kayak mereka kekokohan imannya.

Bisa jadi mereka itu belum pernah mendapatkan /diuji oleh kepahitan hidup dan kesedihan, hingga gampang menasehati. Biasanya orang yang ga pernah menjalani pahit, sedih, dan getirnya hidup, gampang berbicara.

Bukan berarti menihilkan nasehat, bukan berarti menolak nasehat. Semua nasehat-nasehat / kalimat bold berwarna merah diatas itu 100% benar adanya. Namuuunn... Silakan saja simak terus tulisan ini..

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

Ketika seseorang sedang terpuruk dalam jurang kesulitan—kehilangan, kesakitan, atau kegagalan yang pahit—kata "sabar" sering kali menjadi respons otomatis yang paling mudah diucapkan oleh orang lain. Namun, bagi yang sedang mengalami, perintah itu terasa seperti beban di atas beban yang sudah ada.

Mengapa demikian?

Pahitnya Ujian Itu Nyata

Ujian hidup bukanlah konsep abstrak. Ia adalah rasa sakit yang nyata. Ia adalah malam-malam tanpa tidur, air mata yang tumpah, dan keraguan yang menggerogoti. Menyuruh seseorang untuk "sabar" saat mereka berada di tengah badai seolah-olah meniadakan keabsahan rasa sakit yang mereka alami. Kalau kesabaran itu mudah, tidaklah ia dijadikan sebagai ujian, dan pahalanya bukan main-main.

Pahitnya ujian itu perlu diakui

Perjuangan Ini Sungguh Berat: Jiwa yang sedang berjuang melawan getirnya kenyataan perlu tahu bahwa perihnya diakui, bukan diremehkan.

Merasa sendiri berjuang dengan ketidaknyamanan dengan keadaan hati yang hancur bagi orang awam, itu gimana rasanya ya ustadz, ya akhi, ya ukhti, ya syaikh....?????

Sabar Adalah Proses, Bukan Tombol

Kesabaran sejati bukanlah tombol yang bisa langsung ditekan. Ia adalah sebuah perjalanan yang lambat, melibatkan jatuh bangun, dan membutuhkan energi emosional yang besar. Apakah anda tak pernah mendengar kisah seorang manusia yang babak belur, jatuh bangun dalam membina kesabaran?

Yang Dibutuhkan Bukan Sekadar Kata

Ketika kita berhadapan dengan orang yang sedang diuji, yang paling dibutuhkan adalah empati dan validasi, bukan sekadar perintah.

"Tidak semudah itu menyuruh sabar," karena yang terpenting adalah mengakui bahwa kesulitan itu menyakitkan, dan seseorang diizinkan untuk merasa sakit.

Daripada mengucapkan kata "sabar," kenapa tidak tawarkan hal-hal berikut:
  • Pengakuan: "Aku bisa melihat ini sangat berat untukmu."
  • Kehadiran: "Aku di sini jika kamu butuh bicara atau butuh ditemani."
  • Nasehat yang menguatkan: "Tenanglah, tidak mengapa engkau sering lemah, Allah tidak menuntutmu kuat setiap hari, yang penting saat kau ingin menyerah, kembali lah kepadaNya"
  • Waktu: "Tidak mengapa engkau lambat dalam berproses, asal jangan menyerah. Allah melihat ikhtiarmu"
Dengan mengakui bahwa perjuangan itu berat, kita memberikan ruang bagi proses penyembuhan yang tulus, jauh lebih berharga daripada perintah "sabar" yang terlihat sebagai ancaman.

Sabar itu memang berat. Rasanya lebih mudah meninggalkan musik atau lebih bisa meninggalkan rokok, ketimbang bersabar dalam ujian. Begitulah beratnya kesabaran dalam kepahitan.

Dan pada akhirnya, nasehat-nasehat yang hanya mengedepankan dalil ancaman tersebut hanya menambah futur keimanan.

Bagi anda yang sedang menjalani beratnya ujian dan baru sekali ini mendapatkan beratnya cobaan hidup, saya sarankan jangan cari motifasi dan semangat hidup dari akun-akun dakwah medsos atau dari ustadz yang tak memberi udzur untuk seorang pendosa, untuk seorang yang gampang mengeluh, sering protes seperti dirimu. Carilah akun-akun atau chanel dakwah ahlussunnah yang memang khusus memotifasi semangatmu, memelukmu dengan kata-kata penyemangat. Banyak kok akun-akun boster iman kayak gitu di medsos.

Mengadulah kepada Allah saat kamu gagal bertahan dalam kesabaran, jujurlah kepadaNya saat kamu sering mengeluh, sering menyerah saat kau merasa pundakmu tak sanggup lagi memikul semuanya, jangan ceritakan kepada manusia, sekali pun dia ustadz, manusia kebanyakan tak kan memberimu udzur dalam kesalahanmu. Curhatlah kepadaNya, bahwa kamu tak sanggup, kamu itu lalai, kamu itu sering protes dan overthinking, kamu itu tak sabaran orangnya, curhatlah dan mengadulah kepadanya. Tak ada yang paling menerima segala kelemahan dan menerima uzurmu kecuali Allah Ar-Rahman, Al-Ghafur. Allah nanti yang akan memberimu kesabaran, Allah nanti yang akan menguatkanmu.

Sabar itu bukan bawaan lahir, sabar itu karunia dari Allah. Semoga kita semua diberi kekuatan dan kesabaran dan akhir yang indah dalam melewati ujian demi ujian ini. Aamiin...

Post a Comment