Merdeka Itu Tak Segampang Antre Sembako Gratis, Lae!

Sejak peristiwa banjir bah di sebagian wilayah Sumatra, ditambah pemadaman listrik berkepanjangan dan gejolak yang belakangan ini viral di Aceh, slogan-slogan "Sumatra Merdeka" pun mulai ramai digaungkan di media sosial.

"Ayo dukung Sumatra Merdeka...!!"

"0oop, oopp tahan dulu, Kedan..!!

Alasan utama munculnya keinginan untuk merdeka adalah karena merasa mendapat perlakuan tidak adil dari pemerintah pusat yang dinilai lebih mengistimewakan Jawa ketimbang Sumatra. Namun, terlepas dari berbagai kebijakan yang dianggap menganaktirikan Sumatra, keputusan untuk memisahkan diri dari Indonesia tetap bukanlah langkah yang bijak.

Memisahkan diri dari negara induk tidak segampang mengantre sembako gratis di kelurahan Bung? Ada konsekuensi berat yang harus siap ditanggung.

Anda fikir pemerintah Indonesia mau begitu saja melepaskan wilayahnya. "Eh kau mau merdeka, ya uda ambil lah sama kau, sehat-sehat ya semoga makmur? Siip daah...?"
Enak kali lah kalok gitu..?

Jika kau ngotot ingin merdeka juga, militer pasti ikut campur, dan konflik bersenjata tidak akan terelakkan. Chaos lah. Dalam situasi terdesak seperti itu, daerah yang ingin merdeka biasanya akan meminta bantuan dari pihak ketiga, entah itu negara asing maupun organisasi internasional.

Namun, anda harus ingat prinsip ini: Tidak ada makan siang gratis. Pihak ketiga yang mengulurkan tangan tentu tidak bertindak atas dasar kedermawanan murni. Mereka akan menuntut kompensasi besar, mulai dari konsesi sumber daya alam, hak kelola ekonomi, hingga kendali politik, yang ujung-ujungnya justru sangat merugikan dan menjajah daerah tersebut secara terselubung.

Ujung-ujungnya kalian terjajah juga kan? Secara kasat mata kalian merdeka, tapi hakekatnya dikendalikan, dan cuma jadi negara boneka. Lagian kalau daerah kalian merdeka, yang makmur itu elit pejabatnya, bukan kalian sebagai rakyat. Ga faham-faham juga sih?

Saya pribadi kalau ditanya: "Apakah anda setuju jika Medan merdeka?"

Jawaban saya: "Tum hare nehi-nehi segede jahe..! Nehi medan merdeka-he?"

Saya tak ingin tanah kelahiran saya merdeka, kenapa? No way! Karena besar kemungkinan Medan kalau memisahkan diri, nasibnya bakal sama kayak negara Singapura, Negeri Melayu yang dikuasai mata sipit berambisi / jahat.

Bukan cuma Medan, saya juga ga ingin daerah-daerah lain di Indonesia ini memisahkan diri dari Indonesia. Saya ingin Indonesia tetap utuh. Catat itu ya?

"NKRI harga mati dong..???"

Weits... Nanti dulu, Wak! Siapa bilang saya penganut "NKRI Harga Mati"?

Saya ingin Indonesia sebagai negara kepulauan ini tetap menyatu bukan karena slogan atau glorifikasi nasionalisme buta, melainkan demi keutuhan dan kekuatan Islam.

Kok Islam?

Ya, jelas! Coba buka mata dan lihat peta dunia. Indonesia adalah wilayah dengan populasi muslim terbesar di muka bumi. Ketika negeri kepulauan ini tetap bersatu, potensi kekuatan politik, ekonomi, dan jumlah umatnya sangat diperhitungkan di kancah global.

Sebaliknya, kalau Indonesia terpecah-pecah menjadi puluhan negara kecil yang kerdil, strategi divide et impera (adu domba) dari kekuatan asing bakal makin mudah masuk. Umat Islam di daerah-daerah hasil pemecahan itu justru akan makin lemah, mudah didikte, dan diproyeksikan saling berkonflik satu sama lain.

Jadi, menjaga keutuhan wilayah ini bukan sekadar urusan garis batas negara, melainkan strategi besar agar kekuatan umat tidak tercerai-berai menjadi sekadar kepingan kecil yang mudah dihancurkan.

Ambil contoh kasus negeri Arab. Mereka dulu bersatu saat berada dalam naungan Khilafah Islamiyah. Namun saat Khilafah melemah dan tumbang, negeri-negeri Arab memisahkan diri.

Akibatnya, saat salah satu dari mereka dizhalimi seperti yang dialami saudara-saudara kita di Palestina, tak ada satu pun negara Arab yang mau membantu secara militer, karena apa? Karena sudah beda negara, beda urusan. Ente warga Palestina bukan Saudi, bukan Yaman, bukan Mesir, jadi maap ya, kami ga bisa ikut campur. Padahal sama-sama bangsa Arab dan Islam lagi.

Nah, dari sejarah itu kita belajar. Kalau Indonesia yang seluas ini sampai terpecah-pecah menjadi negara-negara kecil, nasib kita kelak ya bakal seperti itu juga. Ketika negara Minang dizalimi atau dijajah secara ekonomi oleh pihak asing, negara lain kayak Aceh, Medan, Riau, Palembang cuma bisa menonton sambil bilang, "Maaf ya, beda negara, beda urusan." Padahal satu rumpun, satu agama lagi.

Kalau ingin berubah menjadi lebih baik, bukan dengan memisahkan diri, tapi berusaha perbaiki sistem, caranya: perbaiki diri, taubat nasuha agar dapat pemimpin yang beriman, amanah, dan takut sama Allah.

Tapi ini kan mustahil?

Ga ada yang mustahil, Lae! Kalau seluruh ummat Islam Indonesia ini mau berbenah diri, dimulai dari kita sendiri, insyaAllah terwujud itu kejayaan.

Yeeaah ini memang terdengar ga populer sih, ya kan? Kurang seru ah, enaknya kan rusuh, panas, membara, anarkis, berdarah-darah, sukur-sukur bisa bisa dapat harta jarahan dan bisa merdeka pulak, sambil menyelam minum es kolak durian? Ngaku aja dah ente...

Jadi, dah faham kelian kan? Jangan asal cakap Sumatra merdeka. Kau kira apa merdeka tu? Jadilah orang cerdik, usah pulak latah mengekor saja. Lepas ni, kurang-kurangi buka medsos tak guna tu? Moga-moga negeri kita ni baek-baek sajalah ya? Aamiin...

Difan

Menulis itu bukan karena kita tahu banyak, tapi karena banyak hal yang ingin kita tahu

Post a Comment

Previous Post Next Post